Kemacetan di Pantura. (Antara)

Kemacetan di Pantura. (Antara)

Macet dan sembako mahal seperti jadi hal yang terasa normal di masa mudik Lebaran.


Dari berbagai liputan berita kita melihat jalanan macet berkilo-kilometer demi mencapai kampung halaman. Ada yang lebih dari 20 jam terjebak macet di tol. Ada yang harus mendorong mobilnya demi berhemat bensin. Ada juga yang menangguk untung dengan memberi jasa WC umum atau jualan minuman di tengah macet.


Begitu juga soal harga sembako yang mahal. Dari tahun ke tahun kita tahu bahwa harga sembako akan terus merangkak naik jelang Lebaran. Pemerintah juga sudah mencoba mengantisipasi. Tapi toh yang kita lihat di lapangan, harga sembako tetap mahal. Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indoensia menyebut, terjadi kenaikan harga hingga 6% terhadap sejumlah bahan kebutuhan pokok. Kentang, misalnya, naik dari 14 ribu ke 20 ribu per kilogram. Sementara daging sapi, masih  bertahan di angka 120-130 ribu per kilogram, meski Presiden Joko Widodo ingin supaya harga daging sapi Rp 80 ribu per kilogram. Tapi apa untuk sembako, mau juga susah senang ditanggung demi Lebaran?


Mudik serta Lebaran seharusnya jadi hal yang bebas stres. Menuju keluarga di kampung halaman, juga merayakan hari besar bersama adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi ketika harus dilalui dengan macet berjam-jam, serta harga naik berkali-kali lipat, tentu ini tak lagi menyenangkan.


Pangkal dari macet adalah bertambahnya jumlah kendaraan yang tak seimbang dengan infrastruktur yang dibangun. Secepat-cepatnya membangun jalan, tetap saja kalah cepat dengan makin banyaknya orang membeli kendaraan pribadi. Dan ketika mudik, kendaraan pribadi masih banyak jadi pilihan ketimbang kendaraan umum. 


Sementara sembako mahal juga belum kunjung juga ada solusinya. Sejak lama, Komisi Pengawas Persaingan Usaha menyebut, praktik kartel membuat harga kebutuhan pokok melonjak. KPPU sudah menghukum 32 perusahaan penggemukan sapi yang terbukti melakukan praktik kartel pada awal Juni lalu. Dari situ, praktik kartel atau persaingan tidak sehat bisa terjadi di komoditas lainnya.


Ini adalah PR yang tak kunjung usai, dari satu kabinet ke kabinet lain. Di Lebaran tahun depan, kita hanya bisa berharap situasi makin membaik untuk semua. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!