Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

Apa yang dinanti dari Hari Raya Idul Fitri? Sudah pasti pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Sederhana sebetulnya, tapi tak begitu bagi warga Syiah Sampang. Sejak 4 tahun silam, setelah rumah dibakar, mereka terpaksa tinggal di Rusun Puspo Argo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Keinginan untuk mudik, lagi-lagi harus dihadang. Pimpinan warga Syiah, Iklil Almilal bercerita, kemarin pagi, ia didatangi Kapolres Sidoarjo dan meminta agar ratusan warga Syiah tak kembali ke tanah lahir mereka; Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben. Dalihnya, massa anti-Syiah menolak kedatangan mereka. Kapolres Anwar Nasir mengatakan, bentrok bisa terjadi dan tak bisa dicegah.

Sungguh tak bisa dimengerti cara berpikir si Kapolres. Sebagai aparat keamanan, tugas mereka adalah melindungi setiap orang dari aksi kekerasan di manapun itu dan siapa pun itu. Bukan sebaliknya; menakut-nakuti dan lepas tangan jika terjadi aksi kekerasan.

Sialnya, sikap semacam itu kerap terjadi pada kelompok rentan lain; Ahmadiyah, Kristen, dan aliran kepercayan seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Polisi cenderung mengikuti apa mau massa intoleran. Sebut saja kejadian di Mempawah, Kalimantan Barat. Saat pembakaran terjadi pertengahan Januari lalu, polisi justru diam saja –menonton aksi gila massa yang mengamuk.

Baru saja di Ulang Tahun ke-70 Bhayangkara lalu, Kapolri Badrodin Haiti mengingatkan polisi untuk melindungi kelompok rentan. Calon Kapolri Tito Karnavian juga diminta menegakkan toleransi. Wejangan itu sebaiknya tak dianggap angin lalu dan Polri serius menjalankan -- seserius ketika membekuk kelompok teroris. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!