Ketika Tak Bisa Pulang Kampung

Apa yang dinanti dari Hari Raya Idul Fitri? Sudah pasti pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Sederhana sebetulnya, tapi tak begitu bagi warga Syiah Sampang.

Kamis, 07 Jul 2016 10:00 WIB

Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

Apa yang dinanti dari Hari Raya Idul Fitri? Sudah pasti pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Sederhana sebetulnya, tapi tak begitu bagi warga Syiah Sampang. Sejak 4 tahun silam, setelah rumah dibakar, mereka terpaksa tinggal di Rusun Puspo Argo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Keinginan untuk mudik, lagi-lagi harus dihadang. Pimpinan warga Syiah, Iklil Almilal bercerita, kemarin pagi, ia didatangi Kapolres Sidoarjo dan meminta agar ratusan warga Syiah tak kembali ke tanah lahir mereka; Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben. Dalihnya, massa anti-Syiah menolak kedatangan mereka. Kapolres Anwar Nasir mengatakan, bentrok bisa terjadi dan tak bisa dicegah.

Sungguh tak bisa dimengerti cara berpikir si Kapolres. Sebagai aparat keamanan, tugas mereka adalah melindungi setiap orang dari aksi kekerasan di manapun itu dan siapa pun itu. Bukan sebaliknya; menakut-nakuti dan lepas tangan jika terjadi aksi kekerasan.

Sialnya, sikap semacam itu kerap terjadi pada kelompok rentan lain; Ahmadiyah, Kristen, dan aliran kepercayan seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Polisi cenderung mengikuti apa mau massa intoleran. Sebut saja kejadian di Mempawah, Kalimantan Barat. Saat pembakaran terjadi pertengahan Januari lalu, polisi justru diam saja –menonton aksi gila massa yang mengamuk.

Baru saja di Ulang Tahun ke-70 Bhayangkara lalu, Kapolri Badrodin Haiti mengingatkan polisi untuk melindungi kelompok rentan. Calon Kapolri Tito Karnavian juga diminta menegakkan toleransi. Wejangan itu sebaiknya tak dianggap angin lalu dan Polri serius menjalankan -- seserius ketika membekuk kelompok teroris. 


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Tanggal 23 Juli nanti kita akan merayakan Hari Anak Nasional. Peringatan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia.