Papua Itu Kita. (Antara)

Papua Itu Kita. (Antara)

Ketika masih berkampanye sebagai presiden, salah satu janji Joko Widodo adalah mengentaskan konflik masyarakat di Papua. Janji ini belum terlihat nyata – baik di tanah Papua, maupun di wilayah lain. Yang terbaru, terjadi di Yogyakarta. Ketika sekelompok mahasiswa Papua menggunakan hak untuk berdemonstrasi, tapi malah menjadi sasaran kekerasan. Padahal mereka sudah menempuh prosedur: menyampaikan surat permohonan izin untuk aksi damai kepada polisi.

Aksi damai malah dibubarkan ratusan personel gabungan dari kepolisian dan ormas lainnya. Tak hanya teriakan yang muncul, tapi juga pentungan, lemparan batu serta kata-kata kotor dan nama hewan yang diarahkan kepada para mahasiswa Papua. Mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi lantas ditahan di dalam Asrama Papua Kamasan di Yogyakarta. Sementara suplai makanan yang hendak dibawa masuk ke asrama dihalang-halangi polisi.

Rencana aksi damai itu sebetulnya sederhana saja. Mereka ingin mendukung Persatuan Pergerakan Pembebasan untuk Papua Barat, ULMWP. Jumat lalu seharusnya keluar keputusan soal itu. Tapi aksi lantas dibubarkan, disertai aksi kekerasan. Foto-foto banyak beredar, menunjukkan bagaimana mahasiswa Papua diperlakukan secara tak pantas. Padahal lagi-lagi, menyuarakan pendapat adalah hak warga negara.

Di saat yang sama, beredar cerita juga soal bagaimana mahasiswa Papua kesulitan mencari tempat tinggal. Dan alasannya terang-terang disebut: ditolak karena dia Papua. Pandangan umum di Yogya menganggap orang Papua sering mabuk, suka melanggar aturan serta suka berkelahi. Bisa jadi ada satu dua yang begitu, tapi apa bisa digeneralisir? Kenapa kita bersikap rasis terhadap bangsa sendiri?

Peristiwa yang terjadi di Papua seringkali lewat begitu saja. Tak hadir jadi perbincangan di meja makan, atau kita bahkan tak tahu sama sekali apa yang terjadi di sana. Papua seolah bukan bagian dari Indonesia. Apa yang terjadi di sana seperti tak ada gaungnya, tak ada pengaruhnya terhadap kehidupan kita. Misalnya sekarang: mungkin Anda tahu lebih banyak soal Pokemon Go ketimbang soal aksi damai berujung kekerasan terhadap mahasiswa Papua di Yogya.

Berpendapat adalah hak yang harus dilindungi – terutama oleh negara. Negara belum memperlihatkan sikapnya soal itu. Dan kita akan terus menagih janji Jokowi untuk Papua. Untuk kita semua. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!