Warga mendengarkan khotbah usai melaksanakan salat Id di Pelabuhan Sunda Kelapa. (Antara)

Warga mendengarkan khotbah usai melaksanakan salat Id di Pelabuhan Sunda Kelapa. (Antara)

Tak lama saat waktu berbuka puasa tiba, dalam waktu yang hampir bersamaan bom meledak di Arab Saudi. Satu bom menggoncang pos polisi di dekat Masjid Nabawi, Madinah. Bom lain menyasar kota Qatif dan Jeddah. Sejumlah laporan menyebut pengebom yang terkoordinasi itu menargetkan aparat keamanan, diplomat Amerika Serikat dan jemaah Syiah. 

Aksi pengeboman juga menyasar kepolisian Indonesia. Pada Selasa pagi pengebom bunuh diri menargetkan petugas di Markas Kepolisian Kota (Mapolresta) Solo. Bom melukai polisi dan menewaskan pelaku bernama Nur Rohmah. 

Korban tewas terbanyak karena bom pada pekan ini terjadi di kota Baghdad, Irak. Sebanyak 165 orang tewas, seratusan lainnya luka. Awal pekan ini Pemerintah Irak menyatakan hari berkabung nasional.

Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut aksi-aksi di berbagai negara itu dilakukan oleh kelompok pendukung atau simpatisan ISIS. Kata Kepala BIN Sutiyoso, ISIS mengubah strategi serangannya lantaran kalah di Irak dan Suriah. Strategi mereka kini adalah menyerang musuh langsung di negaranya. Aksi dilakukan, tak peduli orang tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Maraknya aksi di bulan suci ini diduga karena fatwa Juru Bicara ISIS Abu Mohammed al-Adnani. Salah satu pesannya adalah berjihad dan menjadi martir dengan cara melakukan aksi kekerasan selama bulan Ramadan.

Hari ini umat muslim merayakan hari kemenangan, Idul Fitri. Kembali ke kesucian setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Kita berkabung untuk para korban bom yang tak bisa turut merayakan kemanangan. Sembari tetap waspada, kita berharap kekerasan tak lagi jadi cara untuk mencapai tujuan. Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!