Rhoma Irama. (Antara)

Idaman, namanya. Singkatan dari ‘Islam Damai dan Aman’.

Inilah partai terbaru besutan pedangdut tersohor, Rhoma Irama. Lambang partai ini persegi lima dan di dalamnya ada gambar tangan yang membentuk lambang ‘love’ atau cinta’. Persegi lima, kata Bang Oma, seperti filosofi rukun Islam dan Pancasila. Warna merah putih di lambang juga senada dengan Indonesia. Sementara itu lambang ‘love’ sejalan dengan tagline partai ini yaitu Love Indonesia. Sebuah pilihan sengaja untuk mencampuradukkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di sini karena dianggap lebih menarik.

Nama Idaman dipilih lantaran Rhoma sebagai Ketua Umum Partai ingin menunjukkan kalau Islam tidak mendukung gerakan radikal. Ia juga bermaksud menghapus stigma negatif Islam yang ada di tanah air, bahwa Islam dekat dengan kekerasan.

Kehadiran partai baru yang diusung oleh Rhoma Irama ini adalah hawa segar. Meski politik sudah hiruk pikuk, toh masih ada juga orang yang berniat untuk memformalkan keluh kesahnya lewat saluran bernama partai. Bagaimana pun, ini lebih konkrit daripada sekadar dengan majelis taklim, kata sang Raja Dangdut. Niat seperti ini perlu diapresiasi karena kita tentu butuh semakin banyak orang untuk berpartisipasi aktif dalam membangun negeri.

Sekarang, mari kita merunut sejarah ke belakang.

Tahun lalu, Rhoma Irama secara terbuka menolak Basuki Tjahaja Purnama yang menggantikan Joko Widodo sebagai pelaksana tugas Gubernur Jakarta, karena saat itu Jokowi hendak maju jadi calon presiden. Ahok ditolak, kata Rhoma, karena dia Cina dan Kristen, karena itu dia kafir.

Apa iya itu sikap toleran? Ketika Rhoma menjadikan Pancasila sebagai acuan membuat lambang Partai Idaman, ke mana perginya semangat menghargai agama lain? Toh ketika memilih seseorang jadi pejabat negara, maka yang harus lebih dilihat adalah kapabilitas orang tersebut – bukan agamanya.

Tak bosan kita terus saling mengingatkan kalau Indonesia bukan negara Islam. Indonesia adalah rumah bagi segala agama. Kebetulan saja pemeluk Islam adalah mayoritas. Itu tak serta merta membuat segala sesuatu yang terkait publik mesti dilihat dari kacamata agama tertentu.

Jika Rhoma betul-betul menginginkan partainya jadi idaman semua orang, semua agama, maka paham toleransi mesti juga merasuk ke dalam nadi partai tersebut. Jangan cuma jadi slogan. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!