Anak di Belitung. (Danny/KBR)

Anak di Belitung. (Danny/KBR)

Sejumlah aktivis kemarin berkumpul di rumah mendiang Engeline. Mereka memperingati Hari Anak Nasional dengan pesan pentingnya perlindungan terhadap hak-hak anak. Bocah berusia 8 tahun tewas diduga dibunuh oleh orangtua angkatnya. Ini mesti jadi kasus yang terakhir bagi anak-anak di tanah air.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, hingga April lalu, tercatat belasan ribu kasus menimpa anak-anak Indonesia. Masalah pengasuhan anak berada di tempat kedua tertinggi dengan lebih 3000 kasus. Kasus terbanyak adalah anak yang berhadapan dengan kasus hukum, dengan lebih 6000 kasus. Di nomer buncit kejahatan internet dan pornogrofi dengan lebih 1000 kasus.

Ini catatan yang mesti diwaspadai bersama. Anak adalah pemilik masa depan. Tak sepatutnya di usia dini mereka terlibat dalam berbagai kasus - dari kekerasan sampai kejahatan seksual. Lihat misalnya temuan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Jawa Barat  tentang anak usia kelas 6 SD yang tertangkap karena menjadi pekerja seks komersial. Sungguh miris kita dibuatnya.

Anak adalah harapan. Di usianya mestinya mereka sibuk bermain dan belajar.  Tentu bukan kemauan anak untuk terlibat dalam berbagai kasus, sebagai korban maupun pelaku. Lingkungan lah yang sejatinya membentuk seorang anak, baik itu lingkungan rumah maupun luar rumah. Karena itu, orang dewasa punya tugas besar dan mulia untuk memastikan setiap anak bisa mencecap hak mereka.

Mengutip Kahlil Gibran, 'anak-anamu bukanlah anak-anakmu, mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri'.

Selamat Hari Anak. Mari selamatkan anak Indonesia.  


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!