Teror di Hari Kemenangan

Umat Muslim seperti apa yang justru membunuh orang, sembari menyebut nama Tuhan, di hari suci penuh kemenangan?

Senin, 26 Jun 2017 10:42 WIB

Polisi sedang menggeledah rumah SP. Foto: Anugrah Andriansyah/KBR

Polisi sedang menggeledah rumah SP. Foto: Anugrah Andriansyah/KBR

Damainya Lebaran kita tahun ini terkoyak serangan teroris ke markas Polda Sumatera Utara. Serangan itu dilakukan hanya beberapa jam sebelum umat Islam merayakan hari kemenangan, melaksanakan shalat Ied - yang semestinya juga dilakukan kedua penyerang, AR dan SP. Bulan Ramadhan seperti tak membawa makna lahir kembali sebagai manusia yang bersih. Yang mereka lakukan justru sebaliknya: menyerang markas, menikam polisi sampai tewas dan menurut polisi, itu dilakukan sambil meneriakkan takbir. 

Kapolri Tito Karnavian menyebut, pelaku adalah bagian dari Jaringan Ansharut Daulah (JAD). Kelompok itu menyasar polisi karena dianggap sebagai kafir yang menyerang mereka. JAD sebelumnya mengaku berafiliasi dengan ISIS. Di rumah salah satu pelaku pun ditemukan bendera ISIS. 

Tindakan ini jelas mencoreng wajah Islam. Umat Muslim seperti apa yang justru membunuh orang, sembari menyebut nama Tuhan, di hari suci penuh kemenangan? Apalagi di tengah situasi masyarakat Indonesia saat ini, penting bagi semua umat dari agama apa pun untuk menampilkan wajah agama yang damai dan ramah. Terlebih Islam, yang jumlah pengikutnya paling banyak di tanah air.

Kita tidak ingin gagasan kekerasan dari ISIS menyebar di tanah air. Melakukan kekerasan atas nama Tuhan bukanlah sesuatu yang kita ingin lihat tumbuh di negeri yang sangat beragam seperti Indonesia. Gagasan ISIS bertentangan dengan nilai-nilai Islam, atau agama apa pun di muka bumi. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat pesan yang lantang dan jelas bahwa agama itu membawa kedamaian bagi semua. Supaya ide ISIS mati dan tak diterima siapa pun.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Apakah anda lelah dengan rutinitas harian anda? Seperti kuliah atau bekerja,dan belum punya waktu atau budget anda terbatas untuk bersenang-senang? Dufan Jawabannya