Simposium Anti Apa Entah

Apa iya partai yang sudah mati 50 tahun silam itu bakal bangkit kembali lalu menebar ancaman? Cukup sudah kita mewarisi ketakutan-ketakutan pada generasi mendatang.

Kamis, 02 Jun 2016 07:00 WIB

Aksi FPI membakar kain berlambang palu dan arit. (Antara)

Aksi FPI membakar kain berlambang palu dan arit. (Antara)

"Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain". Begitu judul simposium yang digelar dua hari berturut-turut di Jakarta. Semenjak ini baru sebatas rencana saja, kita sudah melongo: Apa iya partai yang sudah mati 50 tahun silam itu bakal bangkit kembali lalu menebar ancaman?

Dilatarbelakangi kekecewaan atas simposium 65 yang digelar pemerintah, maka simposium tandingan dihelat. Kata ketuanya, bekas Wakil Kepala Staf TNI AD Kiki Syahnakri, ini sebagai upaya mencegah kebangkitan PKI. Menurut dia, PKI telah berontak berkali-kali, 1948 dan 1965. Dia tak ingin itu terulang.

Walhasil, pembicaraan dalam simposium yang berisi para purnawirawan dan puluhan ormas ini ibarat mengetes akal sehat kita. Mulai dari Ketua Simposium Kiki Syahnakri yang menyamakan marxisme dengan atheis, Habib Rizeq yang yakin betul PKI masih ada, bekas wakil presiden Try Sutrisno yang memastikan tak bakal meminta maaf pada PKI sampai MUI yang mengancam bakal turun jihad menghadapi kebangkitan PKI. Harapan bakal mendengar pembicaraan yang bersandar pada kajian ilmiah pada simposium tandingan, sirna. Boro-boro berharap ada diskusi berimbang yang berupaya mengungkap fakta dan meluruskan sejarah.

Singkatnya, simposium anti PKI yang dimotori bekas Wakil Kepala Staf TNI AD Kiki Syahnakri lebih mirip kumpulan orang-orang paranoid yang penuh ujaran kebencian. Yang mengkhawatirkan adalah ketika pemikiran dan ketakutan mereka ini disebar-sebarkan hingga menggerakkan lebih banyak orang ikut paranoid, takut pada hal-hal yang tak jelas dan tak perlu.

Kita berharap simposium tandingan ini tak mengganggu upaya pemerintah dan para korban mencari cara menuntaskan kasus tragedi kemanusiaan yang sudah berusia 50 tahun lebih itu. Apalagi simposium April lalu kabarnya telah menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk penyelesaian kasus tersebut.  Cukup sudah kita mewarisi ketakutan-ketakutan pada generasi mendatang. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.