Mengingat Salim Kancil

Berbulan-bulan persidangan bergulir namun luput menggali pokok masalah, yakni mafia pertambangan.

Kamis, 16 Jun 2016 10:00 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Hari ini kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap Salim Kancil dan Tosan masuk pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Surabaya. Molor dari rencana 9 Juni lalu tanpa alasan jelas.

Dalam kasus ini hakim menyidang 35 terdakwa dalam 14 berkas, belum dihitung dua tersangka usia anak-anak yang disidang terpisah. Tak luput salah satu orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas pembunuhan Salim Kancil yakni Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-awar yang dituntut penjara seumur hidup. 

Berbulan-bulan persidangan bergulir namun luput menggali pokok masalah, yakni mafia pertambangan. Hakim cenderung menganggap kasus ini perkara kriminal hingga penerima aliran dana tambang pun tidak diseret ke pengadilan. Bahkan menurut Tosan, ada pelaku yang masih menambang pasir. 

Kembali ke awal Januari 2015. Saat itu Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang mengumpulkan warga untuk membahas rencana wisata alam. Warga setuju. Alat berat didatangkan, pantai diratakan dengan tiga backhoe. Namun belakangan rencana menyiapkan tempat wisata berganti menjadi aktivitas pertambangan pasir.  Warga mulai melancarkan protes.

Tak peduli pada protes warga, aktivitas pertambangan di Pantai Watu Pecak terus berjalan. Irigasi dan sawah rusak. Warga mengadu ke DPR, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perhutani, Kementan, Gubernur Jatim, Kapolri, Kapolda Jatim, dan DPRD Jatim. Nihil. Protes tak surut, warga terus melancarkan beragam aksi hingga memblokir akses puluhan truk pengangkut pasir.

Sampai pada 26 September 2015, dua warga Desa Selok Awar-awar disiksa lebih dari 30 orang lantaran menolak aktivitas tambang pasir illegal tersebut. Salim Kancil ditemukan tewas di jalan dekat makam setelah dijemput paksa dari rumahnya dan disiksa di balai desa. Sedang Tosan mendapat luka-luka serius.

Keinginan Salim, Tosan dan warga Desa  sebenarnya sederhana: menggarap lahan pertanian untuk kelangsungan hidup. Ketika warga yang sehari-hari bekerja di sawah tidak bisa memanen hasil karena penambangan yang merusak, apa salah mereka melancarkan protes?

Hari ini, kita bersama warga Selok Awar-Awar, Tosan dan Salim Kancil menuntut keadilan. Kita juga bersama mereka untuk terus mengingatkan pemerintah serius memberantas mafia pertambangan yang selama ini jadi biang kerok kekerasan terhadap petani dan merusak lingkungan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Polisi Sudah Tunjuk Penyidik untuk Periksa Novel di Singapura

  • Koalisi Peduli KPK Sebut Penyerangan Air Keras Terhadap Novel Libatkan Petinggi Polri
  • Puncak Macet, 31.325 Kendaraan Keluar Tol Bogor
  • Kawanan Bersenjata Tembaki Konvoi PBB

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?