Foto: Greenpeace

Foto: Greenpeace

Sudah dua kali produsen kertas terbesar ketiga di dunia ini menyampaikan komitmen mereka. Asia Pulp and Paper (APP) pada 2003 dan 2013 lalu berjanji mengakhiri perusakan hutan demi memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik bubur kertas mereka. Di tahun 2003, APP berkomitmen melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi. Tapi setahun kemudian, APP justru dinilai gagal mencapai kemajuan. WWF sebagai mitra sampai menarik diri dari komitmen itu.


Sementara di komitmen tahun 2013, APP berjanji berhenti menebangi hutan alam untuk dijadikan bubur kertas. Perusahaan juga berjanji menghentikan kebakaran hutan, melindungi lahan gambut, menyelesaikan konflik sosial, dan tunduk pada hukum Indonesia. Kebijakan itu berlaku di seluruh rantai operasi APP, termasuk cabang perusahaan ini di Cina. Komitmen yang tertuang pada kebijakan Forest Conservation Policy itu disebut oleh lembaga The Forest Trust Fund  sebagai titik balik peran industri yang selama ini lekat dengan kehancuran hutan hujan tropis.


Dengan adanya komitmen itu kita pernah berharap, virus baik ini diikuti perusahaan lainnya untuk bisa melakukan hal serupa; melakukan bisnis yang tak merusak alam. 


Tapi lain komitmen, lain di lapangan. Tak sejalan. Koalisi Anti Mafia Hutan membeberkan sejumlah bukti, perusahaan itu kembali gagal.  Dalam catatan koalisi, selama 3 tahun, total hotspot di areal konsesi belasan anak perusahaan dan supplier APP mencapai lebih dari 8 ribu titik (8.195 hotspot - web).  Sejak komitmen dituangkan hingga 2015, penebangan hutan alam masih terjadi di areal seluas 7 ribu hektar lebih (7,377 hektar - web).  Bahkan anak perusahaannya, PT Arara masih terlibat konflik dengan masyarakat suku Sakai di Bengkalis sebeb menyerobot lahan adat.


Melihat laporan itu, sulit percaya kalau perusahaan serius menjalankan komitmen dan mengubah praktik bisnis ke arah yang  lebih ramah terhadap alam. Bussiness as usual.  Kita patut curiga perusahaan sekedar memanfaatkan klaim lestari itu untuk memuluskan pemasaran di pasar internasional. Kita harus mendorong terus Pemerintah supaya memberi sanksi bagi janji yang tak ditepati. Karena bumi adalah tempat tinggal kita bersama, satu-satunya.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!