Seorang pegawai perusahaan trading saham asing bekerja di antara bendera Inggris dan bendera Uni Ero

Seorang pegawai perusahaan trading saham asing bekerja di antara bendera Inggris dan bendera Uni Eropa di Tokyo, Jepang, Jumat (24/6).(Antara Foto)

Brexit adalah sebuah bencana yang tidak dimitigasi. Begitu banyak reaksi terkejut yang terjadi setelah hasil referendum di Inggris Raya itu keluar. 51 persen penduduk Inggris memilih ‘leave’ atau meninggalkan Uni Eropa, sementara 48 persen memilih ‘remain’ atau tetap bergabung dengan Uni Eropa. Sebuah hasil yang mencengangkan, termasuk bagi mereka yang memilih untuk lepas dari Uni Eropa. Sebagian tak menyangka bahwa pilihan mereka betul-betul berarti bagi masa depan Inggris. Kelompok usia muda terpukul dengan hasil ini. “Masa depan kami direnggut,” kata mereka.


Banyak pemilih yang baru betul-betul paham apa itu‘leave’ dan ‘remain’ setelah memberikan suara. Artinya, banyak pilihan yang didasarkan pada ketidaktahuan. Survei juga menyebutkan kalau mayoritas orang yang memilih untuk keluar dari Uni Eropa adalah kelompok usia tua serta mereka yang berpendidikan rendah. Para pengkampanye untuk keluar dari Uni Eropa memang banyak menggaungkan isu ekonomi untuk menarik suara. Pendukung Brexit adalah mereka yang merasa ketinggalan dalam globalisasi serta tidak mendapatkan keuntungan dari ekonomi pasar bebas.


Yang sebetulnya ada di belakang Brexit adalah xenofobia - ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain yang dianggap asing. Dan itu sudah terasa begitu hasil referendum keluar. Mereka yang imigran, bukan warga negara Inggris, banyak yang sontak mengalami diskriminasi, kekerasan, pengusiran. Hasil referendum seperti menjadi suatu pengesahan atas aksi kebencian dan rasisme.


Di Indonesia, ketakutan seperti ini juga seringkali gentayangan. Kelompok yang dianggap berbeda lantas didiskriminasi, diusir, disakiti atau didiskriminasi. “Berbeda” di sini bisa beragam sebabnya – mulai dari agama, aliran kepercayaan, suku dan lainnya. Tanyakan pada Ahmadiyah bagaimana rasanya dibenci karena mereka dianggap berbeda. Tanyakan kepada penganut kepercayaan bagaimana rasanya dipaksa belajar agama lain demi nilai agama di rapor. Termasuk juga pada mereka yang dicap komunis meski partainya sudah lama mati di tanah air.


Ketika anggapan berbeda lantas meningkat jadi rasa benci, maka ini jelas bahaya. Aturan-aturan negara – seperti halnya hasil referendum – dijadikan pengesahan atas aksi diskriminasi yang terjadi. Inggris yang selama ini dikenal sebagai negara yang multikultur terancam bakal dirundung isu rasisme yang semakin runcing. Padahal berbeda adalah sejatinya umat manusia sebagaimana diciptakan Tuhan.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!