Calon tunggal Kapolri, Tito Karnavian. (Antara)

Calon tunggal Kapolri, Tito Karnavian. (Antara)

Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk calon Kapolri hari ini batal dilakukan. Penyebabnya fraksi-fraksi belum siap. Baru pada pekan depan surat presiden Joko Widodo yang mencalonkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian dibacakan di paripurna. Tito menjadi calon tunggal kepala kepolisian Indonesia.

Karir Tito mulai melejit saat memimpin tim cobra yang berhasil mengungkap dan menangkap otak pembunuhan Hakim Agung M Syafiuddin Kartasasmita pada 15 tahun silam. Hanya dalam tempo kurang dari satu bulan Tito bisa menangkap pelaku penembakan. Belakangan terungkap otak pembunuhan itu adalah Tommy Soeharto, anak penguasa orde baru Soeharto. 

Tommy tampaknya berang lantaran oleh Hakim Safiuddin dihukum 18 bulan penjara dan denda 30 miliar dalam kasus tukar guling Goro dan Bulog. Padahal oleh pengadilan negeri, Tommy divonis bebas. Setelah vonis Goro, Tommy buron hingga terjadilah kasus penembakan oleh pembunuh bayaran itu. Pada November 2001 Tommy ditangkap dan diganjar hukuman 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Atas keberhasilannya itu, Tito naik pangkat dan menjadi perwira termuda dengan tanda 2 melati di bahunya. 

Karir Tito makin moncer setelah memimpin pasukan antiteror Densus 88. Buronan kasus terorisme kelas kakap seperti Noordin M Top bisa digulungnya. Pasca itu jabatan Kapolda disandangnya. Dari mulai Kapolda Papua sampai Kapolda Metro Jaya. Syarat menjadi calon kapolri dikantonginya setelah bintang di pundak bertambah menjadi 3 karena Jokowi mengangkatnya menjadi Kepala BNPT. 

Usai ditunjuk Presiden, Tito menjanjikan reformasi kepolisian. Dia menegaskan akan mendorong profesionalitas kepolisian kala memberi pelayanan dan perlindungan pada masyarakat. Tito sepertinya tahu benar problem di institusinya. Dalam banyak kasus kepolisian kerap kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Mulai soal korupsi, rekening gendut para jenderal, represi terhadap pengunjukrasa hingga keberpihakan pada kelompok intoleran. Bila Tito bisa menuntaskan sejumlah persoalan itu, kelak namanya akan disejajarkan dengan Hoegeng, Kapolri panutan akan kesederhanaan dan kejujuran. Mirip dengan Tito, kala memimpin kepolisian, Hoegeng melewati seniornya dan baru berusia 47 tahun.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!