Api Dharma Waisak tiba di Candi Mendut. (Antara)

Api Dharma Waisak tiba di Candi Mendut. (Antara)

Hari ini, jutaan umat Buddha di seluruh dunia merayakan tiga peristiwa penting yang disebut Trisuci Waisak. Peringatan lahirnya seorang anak raja bernama Siddharta, lalu ketika Siddharta yang meninggalkan keduniawian mendapat pencerahan menjadi Buddha serta peringatan wafatnya Buddha Gautama.

Di Indonesia, puncak perayaan Waisak digelar sejak pagi ini, dimana umat Buddha berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sepanjang 3,5 kilometer.

Ritual peribadatan digelar hingga tengah malam nanti. Di tengah suasana terang bulan purnama, umat Budha akan melepas ribuan lampion sebagai simbol pencerahan bagi seluruh alam semesta. Inilah hari tertinggi dari semua perayaan dalam kalender umat Buddha.

Hari Raya Waisak hari ini diperingati dalam suasana yang agak berbeda. Ini terutama karena beberapa hari sebelumnya muncul ancaman teror. Teror itu muncul terkait memanasnya isu muslim Rohingya yang mengungsi karena konflik di Myanmar. Sekelompok orang di Indonesia pun mencari sasaran dengan meneror umat Buddha di dalam negeri. Informasi dari Majelis Budhayana Indonesia menyebut ada banyak demo dan ancaman penyegelan terhadap vihara di Indonesia. Bahkan sekitar 17 vihara mendapat ancaman bom. Belum lagi komentar-komentar panas di media sosial yang ikut memperkeruh suasana.

Kita berharap peringatan Waisak tahun ini berjalan lancar, penuh kedamaian. Semangat kedamaian yang dibawa Buddha Gautama semoga meredakan ketegangan dan kemarahan. Rencana umat Buddha menyelipkan doa khusus untuk warga etnis Rohingya di peringatan Waisak hari ini semoga juga membawa perdamaian bagi semua dan bisa tetap hidup berdampingan. Hentikan semua provokasi dan ucapan yang memanaskan hati.

Selamat Hari Raya Waisak. Semoga semua mahluk hidup berbahagia. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!