Lalu lintas di kota Bandung. (Foto: Danny Setiawan/KBR)

Lalu lintas di kota Bandung. (Foto: Danny Setiawan/KBR)

Hingga kemarin Kepolisian Jakarta menilang 100 ribu lebih pelanggar lalu lintas. Operasi Patuh Jaya 2015 yang dilaksanakan selama 14 hari itu menemukankecenderungan meningkatnya pelanggaran. Jumlah mereka yang kena tilang meningkat hingga hampir tiga kali lipat dari operasi terakhir yang diadakan pada dua tahun silam.

Kita tahu, awal dari kecelakaan kerap kali karena pelanggaran-pelanggaran yang sepertinya kecil. Di Jakarta, kita akan mudah menemukan orang yang mengendarai kendaraan melawan arus, tak berhenti di belakang garis putih di perempatan saat lampu merah menyala, mengendarai kendaraan sembari menggunakan telepon gengam dan sebagainya. Kecerobohan semacam itu bisa fatal akibatnya. Tak hanya membahayakan diri sendiri juga orang lain.

Naiknya pelanggaran ini klop  dengan data  Global Status Report on Road Safety yang dikeluarkan organisasi kesehatan dunia WHO tahun lalu. Data WHO,  Indonesia di peringkat pertama dalam peningkatan kecelakaan lalu lintas. Peningkatannya mencapai 80 persen. Setiap hari 120 jiwa melayang karena kecelakaan. Data menunjukkan Indonesia berada di peringkat kelima terbanyak jumlah kematian karena kecelakaan lalu lintas.

Tak banyak pilihan yang kita bisa lakukan untuk menurunkan angka-angka itu. Kepolisian bisa lebih gencar menggelar operasi. Sementara para pengemudi mesti punya kesadaran untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Penindakan mesti dilakukan agar orang jera dan patuh para aturan. Tujuannya agar pengemudi tak jadi korban atau membuat orang lain jadi korban akibat sikap semau gue, seenaknya  melangggar peraturan lalu lintas. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!