Menjaga Kesehatan Laut, Menjaga Kesehatan Kita

Manusia adalah pelaku pengrusakan laut, maka manusia juga yang harus membersihkannya.

Senin, 08 Jun 2015 07:45 WIB

Tumpukan sampah laut. (Antara)

Tumpukan sampah laut. (Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Kalau Anda belum tahu, hari ini tolong beri selamat kepada laut. Setiap tahun, laut dirayakan oleh dunia dalam Hari Laut Sedunia. Hari ini juga diakui sampai di tingkat PBB yang mendorong adanya perayaan dan aksi nyata untuk melindungi laut. Tema tahun ini adalah laut yang sehat, planet yang sehat.

Dan setelah kalimat itu diucapkan, seperti ada rasa pilu.

Pulau Rambut ada di Kepulauan Seribu. Naik kapal dari pelabuhan di daerah Tangerang hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Ini adalah pulau idaman bagi para burung dari seantero dunia yang tengah bermigrasi. Pulau Rambut adalah sumber makanan, tempat yang tepat untuk  burung-burung ini istirahat sejenak, bertelur dan mencari makan. Tapi di pulau ini juga sampah terserak di mana-mana. Paling banyak: sandal jepit dan bungkus makanan instan atau cemilan. Mencari spot untuk snorkling yang bebas sampah itu sulit.  Penjaga pulau sekaligus perawat bakau di sana dengan wajah miris menjelaskan siapa pelakunya. “Orang Jakarta,” kata dia.

Riset dari University of Georgia baru-baru ini mencatat sekitar 8,8 juta ton plastik berakhir di laut-laut seluruh dunia. Ini setara dengan 5 kantong belanja penuh sampah plastik yang menutupi setiap setengah meter garis pantai. Dan penyumbang terbesar, mari kita tertunduk malu sejenak, adalah negara-negara berkembang di Asia. Tahun 2025 mendatang, jumlah total sampah plastik di lautan diperkirakan mencapai 170 juta ton. Dan tahun 2025 itu tidak lama – hanya 10 tahun dari sekarang.

Dan sampah-sampah itu tak sekadar mengotori pemandangan mata, tapi juga menyebabkan kematian. 75 persen penyu hijau diketahui memakan sampah plastik karena mengira itu adalah ubur-ubur – makanan mereka. Ikan paus, albatros juga 200an spesies lainnya juga dilaporkan menelan dan terjerat puing plastik.

Laut tak ubahnya jantung bagi planet Bumi. Seperti jantung di tubuh kita yang memompa darah ke setiap bagian tubuh, maka laut menghubungkan semua orang di berbagai penjuru dunia, di mana pun itu. Laut mengatur iklim, memberi makan jutaan orang setiap tahun, memproduksi oksigen, rumah bagi keanekaragaman hayati. Manusia adalah pelaku pengrusakan laut, maka manusia juga yang harus membersihkannya. Dan manusia itu adalah kita semua.


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

OTT di PN Jaksel, KPK Tetapkan Dua Orang Tersangka

  • DPR Akan Panggil Panglima TNI Terkait Pembelian Helikopter AW 101
  • Polres Jombang Temukan Modus Penjualan Narkoba Secara Kredit
  • Presiden AS Pilih Pertahankan Pasukan dari Afghanistan

Impor barang dari luar negeri selalu diawasi dan memiliki ketentuan, jangan sampai Anda menjadi orang yang tidak tahu ketentuan yang dimiliki Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hatta