Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

Melihat Kabupaten Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur ibarat melihat anomali atau penyimpangan realitas kehidupan dan ketidakadilan.

Selama ini Kabupaten Timor Tengah Selatan dikenal sebagai daerah yang kaya sumber daya alam berupa mangan. Mangan adalah bahan yang tidak tergantikan untuk industri baja. Kabupaten ini juga dikenal sebagai sentra penghasil jagung di NTT.

Tapi belakangan kita mendengar kabar ratusan warga di kabupaten ini, tepatnya di Kecamatan Kualin dan Kecamatan Amanuban Selatan mengalami krisis pangan. Curah hujan minim, alhasil gagal panen padi dan jagung. Warga terpaksa berburu batang pohon enau atau lontar, lalu mengambil bagian tertentu untuk dimakan. Mereka menyebutnya Putak atau Kebung. Sebelum dimakan, kebung dikeringkan lalu dikukus. Atau dipotong-potong lalu direbus.

Makanan itu sebetulnya bukan makanan untuk manusia. Kebung di sana hanya digunakan sebagai pakan ternak sapi, babi, kambing dan lain-lain. Banyak ahli kesehatan yang mengatakan mengkonsumsi kebung berbahaya bagi kesehatan manusia. Tapi warga tidak punya pilihan.

Hari-hari belakangan ini warga di Dusun itu, termasuk anak-anak dan balita terpaksa mengonsumsi pakan ternak. Pada 2006 lalu, atau hampir 10 tahun lalu, peristiwa serupa pernah terjadi di kabupaten tetangga, Sikka. Saat itu gagal panen juga menyebabkan krisis pangan.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan anak buahnya pergi membawa bantuan ke Kabupaten Timor Tengah Selatan. Ini daerah lumbung suara pendukung Jokowi di pemilihan Presiden Juli lalu. Pemerintah daerah lain yang punya stok pangan juga diminta membantu.

Kita berharap anak buah Presiden tidak hanya semata-mata membawa bantuan lalu dianggap selesai. Kondisi geografis di NTT yang minim curah hujan harus diantisipasi serius oleh pemerintah pusat dan daerah. Gali sumber air dan bikin waduk. Lalukan tindakan nyata, terutama untuk mengamankan pertanian warga. Agar krisis pangan tak terulang lagi.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!