Kemampuan Menerima Perbedaan

Kita tidak bisa membiarkan generasi mendatang tumbuh dengan prasangka, rasa saling curiga dan ketidakmampuan menghargai perbedaan.

Minggu, 28 Mei 2017 22:25 WIB

Aksi simpatik melawan teror bom Kampung Melayu.

Sejumlah simpatisan dan keluarga korban bom Kampung Melayu melakukan aksi simpatik agar masyarakat tetap berani dan bersatu melawan aksi terorisme. (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga).

Belakangan dunia tampak kejam dan tak bersahabat. Ada bom di konser Ariana Grande di Manchester, Inggris. Seorang laki-laki ditikam sampai tewas di Portland, Amerika Serikat, karena melindungi dua perempuan dari hinaan anti-Muslim. Kota Marawi, Filipina, dikuasai milisi pro-ISIS. Sementara di tanah air -- tak kalah seram. Ada bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pawai obor anak-anak meneriakkan kata ‘bunuh’. Juga seorang dokter di Sumatera Barat yang merasa harus meninggalkan rumahnya setelah menerima ancaman akibat status Facebook-nya soal pimpinan FPI, Rizieq Shihab.

Ada apa dengan kemampuan kita menerima perbedaan?

Kondisi ini harus diputarbalikkan. Kita tidak bisa membiarkan generasi mendatang tumbuh dengan prasangka, rasa saling curiga dan ketidakmampuan menghargai perbedaan. Kita secara sadar mesti terus membaurkan diri dalam kelompok yang beragam, tak hanya berkutat dalam kelompok sama suku dan agamanya. Perbedaan harus kita sambut, sekaligus berupaya meningkatkan kadar kemampuan kita menerima perbedaan itu.

Sebuah inisiatif sempat meluncur di Twitter, lewat sebuah pertanyaan sederhana: siapa yang punya teman dekat dari agama lain? Responsnya luar biasa dan sungguh menghangatkan jiwa. Di tengah gesekan antarkelompok agama, kita masih bisa melihat Indonesia yang hangat, beragam, toleran, dan saling menerima perbedaan. Indonesia yang beragam, beragam, yang didirikan para pendiri bangsa kita. Indonesia yang kita kenal.

Radikalisme, juga terorisme, adalah buah dari sikap intoleransi. Di sini, PR besar menanti kita semua. Negara wajib memenuhi hak warga negara untuk bisa menjalankan kehidupan beragama dengan baik, dengan segala perbedaan di tengah masyarakat. Negara juga mesti bertindak tegas terhadap tindak sewenang-wenang dari sesama warga yang memburu seseorang yang dianggap menghina ulama atau agama lain. Kita sebagai warga mesti punya kesadaran untuk tidak terseret dalam pusaran intoleransi.

Mari melawan ujaran kebencian dengan memperbanyak ujaran yang membawa damai, menghargai perbedaan. Karena agama adalah urusan pribadi, vertikal antara manusia dengan Tuhan. Sementara Indonesia adalah rumah kita bersama.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.