Ilustrasi. (djs)

Ilustrasi. (djs)

Beberapa hari lalu beredar kabar adanya rencana peringatan hari lahir Partai Komunis Indonesia atau PKI pada 9 Mei 2016. Kabarnya, akan ada penyebaran 102 ribu kaus PKI pada Senin kemarin. Informasi itu hanya bersumber dari satu akun Facebok yang mengatasnamakan PKI. Ada juga foto beberapa orang mengenakan kaus berlambang palu arit, dan kegiatan sablon kaus serupa.

Tanpa ada penelitian, pengecekan dan pemeriksaan lebih mendalam, sejumlah media rama-ramai memberitakan isu itu secara besar-besaran. Terutama media partisan yang selama ini getol menjadikan komunisme sebagai musuh mereka. Isu itu pun viral.

Nyatanya tak ada apa-apa pada 9 Mei. 

Bagi orang sehat akal dan pikiran, tidak dibutakan kebencian, akan melihat banyak kejanggalan dari beredarnya isu semacam itu. Orang jeli akan bisa membedakan simbol palu arit di akun Facebook itu dengan yang dipakai oleh PKI pada masa lalu. Simbol-simbol yang oleh media online, media sosial dan sebagainya disebut lambang PKI, sejatinya adalah simbol bendera Partai Komunis Vietnam, atau simbol bendera Partai Komunis Kamboja. 

Jika si pembuat bendera adalah generasi baru PKI, mustahil mereka tidak bisa membedakan bendera-bendera PKI yang ikut Pemilu 1955 dengan bendera partai komunis di negara lain. Akun Facebook itu juga meragukan, karena kalimat yang dipakai tidak satu pun nuansa ‘komunisme’. Itu memunculkan kesimpulan awal: isu itu dirancang orang yang tidak mengenal PKI, namun paham ilmu lempar batu sembunyi tangan.

Media seharusnya teliti dalam pemberitaan, memastikan kebenaran sumber-sumber berita, dan hanya memberitakan isu yang memang sudah diverifikasi. Jika tidak, maka media hanya menjadi corong dan alat propaganda. Dan itu adalah kesalahan besar bagi media. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!