Merayakan Perbedaan

Perbedaan pilihan orientasi seksual seharusnya dilihat Semata-mata sebagai suatu perbedaan.

Senin, 16 Mei 2016 11:00 WIB

Ilustrasi. (KBR/Bismillah Geelani)

Ilustrasi. (KBR/Bismillah Geelani)

Di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama dikabarkan bakal meresmikan Stonewall sebagai monumen nasional untuk memperingati kesetaraan bagi kelompok LGBT. Diperkirakan peresmian bakal terjadi pada bulan Juni, bulan yang kerap disebut sebagai Pride Month, alias Bulan kebanggaan sebagai kelompok LGBT di New York. Bar di New York ini dianggap sebagai titik awal perjuangan melawan diskriminasi terhadap kelompok gaya di Amerika. Pada 1969, Stonewall dirazia polisi dan secara spontan orang-orang di sana melawan kekerasan dari polisi itu.

Membayangkan itu terjadi di Indonesia, rasanya sulit. Kelompok LGBT masih jadi sasaran diskriminasi di Indonesia. Penelitian Arus Pelangi, LSM yang peduli dengan soal pemenuhan hak LGBT, pada 2013 lalu menemukan bahwa hampir 90 persen dari mereka jadi sasaran kekerasan. Bentuknya mulai dari verbal, fisik maupun psikis.

Salah satu bentuk yang nyata adalah kriminalisasi. Laporan UNDP menyebut, ada banyak peraturan daerah yang menyebutkan kelompok LGBT. Di Sumatera Selatan misalnya, ada Perda Provinsi yang menggolongkan homosexual sebagai perbuatan tidak bermoral. Sementara di Sumatera Barat ada Perda Kota yang melarang siapa pun untuk terlibat “homoseksual dan lesbian”.

Besok, dunia memperingati Hari Internasional Melawan Homophobia dan Transfobia. Ini adalah pengingat bahwa Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menghapus homosexual dari kategori penyakit mental. Teorinya, ini diikuti juga dengan pengakuan akan kesetaraan bagi mereka. Sekjen  PBB Ban Ki Moon pun menyebut kalau hak-hak  LGBT adalah hak asasi manusia.

Kita sadar, itu belum terjadi untuk teman-teman dari kelompok LGBT di tanah air. Perbedaan pilihan orientasi seksual seharusnya dilihat Semata-mata sebagai suatu perbedaan. Bukan penyakit, bukan aib, bukan pula tindakan tidak bermoral. Dan Negara seharusnya melindungi perbedaan tersebut, bukannya jadi sumber pemilu diskriminasi terhadap mereka yang dianggap berbeda. Dan di antara publik pun perlu didorong untuk menghargai perbedaan itu. Menjadi berbeda bukan alasan untuk mendiskriminasi, apalagi mengkriminalisasi.

Selamat merayakan perbedaan!  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1