Pendemo kegiatan ALF 2016 melakukan negosiasi dengan Polisi. Foto: KBR

Pendemo kegiatan ALF 2016 melakukan negosiasi dengan Polisi. Foto: KBR

Dari Yogyakarta, intoleransi itu menyebar ke ibukota Jakarta. Sedari Kamis kemarin hingga Minggu ini di Taman Ismail Marzuki Jakarta dijadwalkan berlangsung sejumlah agenda kegiatan The ASEAN Literary Festival 2016. Festival internasional yang digelar kali ketiga ini  mengusung tema "The Story of Now", membahas perkembangan terkini sastra. Sejumlah pegiat sastra dari dalam dan negeri jiran sudah dijadwalkan tampil.

Dan jelang pembukaan, intoleransi itu datang. Mengibarkan nama Aliansi Masyarakat dan Mahasiswa Muslim (AM3), mereka mengancam membubarkan  pagelaran dengan alasan ada agenda  tersembunyi dengan kedok festival. Kegiatan tersebut dituding mengkampanyekan komunisme, kemerdekaan Papua, serta Lesbian, Gay, Biseksual, dan Trangender (LGBT).

Lantaran desakan pendemo itulah sempat muncul kabar polisi membatalkan izin kegiatan. Akibatnya ketika waktu pembukaan tiba, pintu tempat acara tetap terkunci. Alih-alih memastikan kegiatan yang telah berizin itu berlangsung aman, aparat malah meminta pembatalan. Akibatnya ada kegiatan yang semestinya berlangsung di TIM dipindahkan ke tempat lain.

Upaya intoleran itu menuai kutuk dari Dewan Kesenian Jakarta. Tindakan intoleran semacam itu sepatutnya tak ditolerir dan dilawan. Sembari itu,  mengingatkan aparat kepolisian setempat agar tak lupa perintah Presiden Joko Widodo kepada Kapolri: lindungi kegiatan-kegiatan itu dan tindak tegas kelompok intoleran. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!