Masyarakat antusias mengikuti sidang vonis kasus YY. (KBR/Marwan)

Masyarakat antusias mengikuti sidang vonis kasus YY. (KBR/Marwan)

Kemarin, Pengadilan Negeri Curup, Bengkulu, menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada 7 terdakwa kasus pembunuhan dan pemerkosaan YY. Remaja 14 tahun ini tewas setelah diperkosa beramai-ramai sepulang sekolah. Hukuman ini sesuai dengan tuntutan jaksa. Undang-undang Perlindungan Anak menyebutkan kalau hukuman maksimal 15 tahun penjara menanti para pelaku kejahatan seksual.

Vonis ini jatuh di hari yang sama dengan keputusan para menteri di bawah Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Mereka bersepakat untuk memperberat hukuman maksimal bagi pelaku kejahatan seksual. Salah satunya dengan mempublikasikan kepada publik identitas pelaku yang berusia dewasa, atau di atas 18 tahun. Publikasi ini diharapkan bisa menimbulkan efek jera. Hal lain yang masih dibahas adalah soal kebiri karena terkait soal HAM.

Satu hal yang langsung disorot begitu kasus YY ini muncul adalah soal pendidikan. Sejauh mana anak diajari untuk menghormati sesamanya? Apakah anak tahu soal apa itu kekerasan seksual? Apakah anak laki-laki sudah diajari untuk menghormati perempuan? Apakah publik sudah diajari untuk tak mempertanyakan baju apa yang dipakai si perempuan ketika terjadi kasus pemerkosaan?

Pemerintah menjawab, soal kekerasan seksual sudah diajarkan; dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sejauh kita paham pelajaran itu, maka akan ada lebih banyak aspek organ tubuh manusia yang dipelajari. Sementara soal kekerasan seksual, ada banyak sekali lapisan di sana. Soal pendidikan, soal menghargai sesama, soal apa itu kekerasan seksual dan banyak lagi.

Menambah berat hukuman kepada pelaku kejahatan seksual itu baik. Presiden Jokowi bahkan minta supaya pemerkosaan dianggap sebagai kejahatan luar biasa, seperti narkoba, terorisme dan korupsi. Artinya, pencegahannya butuh langkah dan strategi yang luar biasa pula. Dan itu tak cukup hanya dengan menambah berat hukuman. Tapi perlu dikulik sampai ke dasar: mendidik semua orang untuk menghargai orang lain, apa pun jenis kelaminnya.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!