Aksi FPI membakar kain berlambang PKI. (Antara)

Aksi FPI membakar kain berlambang PKI. (Antara)

Dari Istana Negara, perintah yang diklaim dari Presiden Joko Widodo keluar; siapa saja yang mencoba mengembangkan kembali paham komunisme akan ditindak tegas. Dan, tak sampai 24 jam, dua aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Ternate, Maluku Utara, disambangi dua anggota militer berpakaian sipil. Kamar Adlun Fikri dan Supriyadi digeledah anggota Unit Intel Kodim. Ada sejumlah buku, laptop dan kaos yang dianggap mengandung paham komunis.

Di Makodim 1501, keduanya diinterogasi. Kenapa buku-buku itu masih dibaca? Kaos dibeli dimana? Dibagikan pada siapa saja? 

Mereka dipaksa menandatangani surat pernyataan: kami tidak akan lagi menggunakan artibut-atribut Pecinta Kopi Indonesia. Kalau disingkat, PKI --sebuah cap haram ketika Orde Baru berkuasa. Hingga kemarin malam, keduanya masih diperiksa di Polres Ternate. 

Penangkapan ini adalah yang pertama sejak perintah Jokowi itu diumbar Kapolri Badrodin Haiti, Selasa lalu. Tapi sesungguhnya jauh sebelum ini, yang namanya intimidasi sudah merajalela. Sebut saja pertemuan penyintas korban 1965/1966 di Bogor, gelaran Belok Kiri Fest, pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta di Goethe Haus, dan semalam penerbit buku Resist di Yogyakarta didatangi tentara. 

Entah apa yang ada dalam pikiran pemerintah saat ini. Jika pemerintah menganggap PKI atau ajaran komunisme berusaha menghancurkan bangsa, seperti yang diucapkan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, jelas itu keliru. Kita semua tahu, PKI sudah mati. Yang tersisa sekarang hanyalah para korban dari peristiwa keji itu --dimana pelakunya diduga kuat TNI-AD. 

Pemerintah mestinya belajar, cara-cara menangkap serampangan semacam ini tak akan bisa membungkam masyarakat. Yang ada, justru perlawanan balik. Kita sudah dibungkam 30 tahun oleh Orde Baru. Dan itu sudah cukup.

Mau sampai kapan hidup dengan bayang-bayang hantu komunis yang dihidup-hidupkan sendiri? 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!