Demo TKI. (Antara)

Belum juga sepekan moratorium penghentian pengiriman TKI ke Timur Tengah berjalan, Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mengomentarinya. Politisi Partai Golkar itu mengatakan, moratorium baru bisa diberlakukan tiga tahun lagi. Itu pun jika pertumbuhan ekonomi meningkat hingga 7 persen.

Kebijakan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah sebetulnya baru mulai awal Mei lalu. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri menandatangani surat yang melarang TKI dikirim ke 21 negara Timur Tengah, di antaranya di Arab Saudi. Di sana ada 1,2 juta TKI yang bekerja di sektor informal.

Menurut Hanif, moratorium perlu dilakukan demi melindungi TKI. Sebab ada banyak pelanggaran terkait perdagangan manusia dan aturan ketenagakerjaan di 21 negara tersebut. Problemnya beragam – mulai dari gaji yang rendah, hingga tidak adanya perlindungan bagi TKI. Inilah yang jadi latar belakang utama penghentian pengiriman TKI ke Timur Tengah.

Tapi apa betul moratorium jadi solusi paling tepat?

Jika problemnya adalah lemahnya perlindungan terhadap para TKI, maka yang seharusnya diperbaiki, dan diperkuat, adalah perlindungan itu sendiri. TKI, khususnya tenaga informal, bisa lebih dilindungi jika pemerintah Indonesia membuat kesepakatan atau MoU dengan negara tempat di mana TKI bekerja. Tapi sayang, hal itu tak pernah dilakukan. Yang ada malah Pemerintah terlihat dungu ketika Siti Zaenab dan Karni Binti Medi Tarsim dihukum mati tanpa ada pemberitahuan tanggal eksekusi. Ini diperburuk juga dengan lemahnya diplomasi pemerintah.

Sejak lama TKI dilabel sebagai pahlawan devisa -- membawa masuk uang ke kas negara sampai Rp 100 Triliun per tahun. Moratorium sebetulnya tak menyelesaikan masalah, tapi hanya cari gampang.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!