Pedagang beras. (Antara)

Pedagang beras. (Antara)

Pertengahan bulan depan kita memasuki bulan Ramadhan. Mayoritas warga negeri ini yang beragama Islam akan mulai menjalankan ibadah puasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, harga-harga barang kebutuhan pokok selalu naik jelang bulan puasa. Termasuk beras, kini harganya mulai merangkak naik.

Belakangan ini kita mendengar kabar kurang menggembirakan. Panen padi diperkirakan tidak akan terjadi seretak karena perubahan cuaca. Bila tahun lalu panen raya terjadi bulan April, tahun ini diperkirakan baru pada Juni atau Juli. Bahkan ada daerah lumbung padi yang kemungkinan baru panen setelah Lebaran. Ini menyulitkan pemerintah untuk mendata stok beras dan kebutuhan beras nasional.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pun belum tahu kecukupan beras secara nasional, karena masih menunggu suplai beras hasil panen. Ini lantas memunculkan wacana impor beras yang menjadi ramai beberapa hari terakhir. Menteri BUMN Rini Suwandi mengisyaratkan pintu impor masih terbuka sambil melihat kemampuan Badan Urusan Logistik Bulog menyerap beras hasil panen sebelum Ramadhan atau Lebaran.

Sejauh ini pemerintah mengklaim persediaan beras nasional masih aman di kisaran 1,2 juta ton. Panen bulan Juni diperkirakan akan menambah stok beras sekitar 3 juta ton, dan bulan Juli tambah lagi 4 juta ton. Tapi itu data dari Badan Pusat Statistik BPS yang selama beberapa tahun terakhir mulai diragukan banyak pihak. Beberapa tahun lalu BPS merilis stok beras surplus, namun pemerintah tetap impor beras.

Simpang siur data beras pun seperti terulang dari tahun ke tahun.

Sejumlah ahli pangan menilai data BPS yang menyebut stok beras surplus berbanding terbalik dengan harga beras di pasaran yang terus melonjak. Ini mirip kejadian tahun lalu, ketika BPS menyatakan beras surplus namun harga tetap tinggi.

Bulan Maret lalu, harga beras naik dan disinyalir karena distribusi yang tidak merata. Permintaan DPR agar ada audit produksi dan distribusi beras juga tak kunjung ada tanggapan. Termasuk juga soal penyelidikan dugaan adanya mafia beras yang sampai sekarang pun tak ada kabarnya.

Kita berharap pemerintah tidak meyepelekan masalah perberasan. Beras masih menjadi makanan pokok di Indonesia. Jangan sampai karena terlambat mengambil keputusan kita menghadapi krisis beras. Lalu impor jadi solusi gampang. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!