Mereka yang Tak Diinginkan

ASEAN mestinya malu pada Aceh. Kita mestinya malu pada Aceh.

Senin, 18 Mei 2015 07:45 WIB

Pengungsi Rohingya. (Foto: Erwin J/KBR)

Pengungsi Rohingya. (Foto: Erwin J/KBR)

Menolong, semestinya memang dilakukan tanpa perlu banyak pikir. Para nelayan di Aceh mungkin tak banyak tahu soal latar belakang orang-orang Rohingya. Yang mereka tahu, ada kapal penuh ratusan orang yang terombang-ambing di lautan yang butuh bantuan segera. Kelaparan. Ketakutan. Dan yang dilakukan para nelayan Aceh adalah langkah kemanusiaan yang sangat mendasar: segera membantu.

Para nelayan itu bertindak tanpa memikirkan sikap politik. Tak juga bertanya dulu, apa agama mereka yang terdampar dan kelaparan di kapal. Yang dilakukan pertama adalah membantu dan membuka tangan selebar dan sehangat mungkin. Memberi makan, minum, serta penampungan. Tak seperti militer Indonesia dan militer Malaysia yang memberikan bantuan makanan, tapi tetap menolak menerima mereka di atas tanah masing-masing. Aceh adalah bagian dari Indonesia, tapi untuk soal ini, sikap orang-orang Aceh lebih membanggakan dibandingkan sikap Indonesia.

Orang-orang Aceh tak pikir dua kali untuk menolong Rohingya. Mereka ingat ketika Aceh dalam kesusahan konflik bersenjata atau bencana tsunami, bantuan pun deras mengalir. Bagi orang-orang Aceh, ini adalah saatnya balik membantu orang lain. Sikap yang seharusnya membuat malu negara-negara anggota ASEAN.

Isu Rohingya bukan hanya persoalan Myanmar. Pengungsi Rohingya tak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di negara-negara lain di ASEAN. Orang Rohingya pun beragama Islam – agama yang dianut banyak orang di negara-negara kawasan. Ringkasnya, masalah Rohingya adalah urusan bersama. Ini soal kemanusiaan – sesuatu yang tanpa batas, tak peduli sekat agama, suku dan lainnya. Tapi sejak persoalan Rohingya mencuat beberapa tahun lalu, tak ada aksi bersama yang dilakukan negara-negara ASEAN. Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir tahun ini, yang melulu dibahas adalah soal ekonomi, perdagangan, dan sebagainya. Tak pernah membahas soal kemanusiaan yang genting seperti ini.

ASEAN mestinya malu pada Aceh. Kita mestinya malu pada Aceh. Dan ini saatnya mengarahkan perhatian dan energi kita untuk sedapat mungkin membantu Rohingya.   

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.