Seorang anak menunjukkan karpet masjid Ahmadiyah yang dibersihkan dan dijemur. (Antara)

Seorang anak menunjukkan karpet masjid Ahmadiyah yang dibersihkan dan dijemur. (Antara)

Ketika ratusan orang Rohingya tiba-tiba ada di perairan Indonesia, semua kaget. Reaksi awal TNI adalah memberi makan meski tak menerima mereka di tanah Indonesia. Persoalan lantas bergulir, tekanan internasional mulai datang bertubi-tubi – tak hanya kepada Indonesia, tapi juga kepada negara-negara lain di Asia Tenggara. Keputusan terakhir yang diambil Indonesia adalah Pemerintah siap menampung para pengungsi Rohingya.

Untuk itu Presiden Joko Widodo berencana menerbitkan Peraturan Presiden tentang pencari suaka. Lewat Perpres ini nantinya pemerintah daerah bisa menampung para pengungsi yang mencari suaka atau terdampar seperti Rohingya ini. Termasuk mengajukan dana kepada pemerintah pusat untuk mengurus 13 ribuan pengungsi.

Di tengah masyarakat pun gerakan menolong orang Rohingya datang tak kalah deras. Ada yang bergerilya lewat media sosial, ada juga yang lewat aksi nyata mengumpulkan sumbangan. Kalau tak cermat, bisa juga kita tergelincir pada informasi atau foto yang tak layak dipercaya, yang mencoba menggambarkan kenapa Rohingya perlu diselamatkan serta kenapa Rohingya terusir dari Myanmar.

Orang-orang Rohingya tak diterima di mana-mana karena dianggap berbeda. Di tengah masyarakat Myanmar yang beragama Budha, kelompok Muslim Rohingya adalah minoritas. Karena itu dukungan dari masyarkaat Indonesia untuk menolong Rohingya adalah hal yang sangat baik, sangat mulia.

Sekadar mengingatkan, di Indonesia juga ada mereka yang harus jadi pengungsi di negeri sendiri. Orang-orang Ahmadiyah sudah 9 tahun ini ada di Asrama Transito NTB, mengungsi, diusir dari desanya sendiri. Ada juga orang-orang Syiah yang sudah jadi pengungsi selama tiga tahun belakangan ini. Mereka diusir karena dianggap berbeda. Dalam hal ini, yang dianggap berbeda adalah agama dan keyakinan mereka.

Orang Ahmadiyah dan Syiah mungkin tak perlu melewati perjalanan maut lewat laut selama berhari-hari. Tapi mereka seharusnya mendapatkan porsi perhatian yang sama seperti kita memperhatikan Rohingya. Apalagi mereka sama-sama warga Indonesia – punya hak hukum yang sama dengan kita sekalian.

Atas nama kemanusiaan, kita memperhatikan Rohingya. Bisakah atas nama kemanusiaan, perhatian juga diarahkan kepada teman-teman kita dari kelompok Ahmadiyah dan Syiah yang dipaksa mengungsi? 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!