TNI dan Rakyat. (Antara)

TNI dan Rakyat. (Antara)

Presiden Jokowi seperti memberi lampu hijau bagi TNI untuk menempati pos penting di pemerintahan dan penegak hukum. Tanda-tandanya makin jelas. Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengatakan TNI perlu terlibat di sejumlah lembaga sipil karena permintaan dari lembaga tersebut. Contohnya, ketika Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan mengusulkan perwira aktif TNI untuk jadi Deputi V.

Jauh sebelum itu, Presiden Joko Widodo juga seperti ‘memberi angin’. Misalnya dengan melibatkan TNI dalam menggenjot swasembada pangan. Saat itu Bintara Pembina Desa (Babinsa) dijadikan pendamping petani. Agak aneh sebetulnya karena petani mestinya lebih paham soal pertanian ketimbang TNI.

Jokowi pun menjanjikan bakal menaikkan anggaran TNI hingga 200 persen. Hal itu disampaikan bekas Gubernur DKI Jakarta itu saat berkunjung ke Rumah Sakit Ridwan Meuraksa Kodam Jaya, di Jakarta Timur. Jokowi juga menaikkan tunjangan bagi seluruh prajurit TNI hingga 60 persen mulai bulan ini.

Sikap Jokowi ini bisa juga dibaca sebagai strategi karena tak bisa ‘mengendalikan’ Kepolisian Indonesia. Karena tak bisa memegang Polri, Jokowi pakai tangan TNI. Tentu masih ingat bagaimana Kepolisian berkali-kali membangkang perintah Presiden terkait seteru KPK-Polri. Kapolri Badrodin Haiti pun seperti tutup telinga untuk menghentikan kriminalisasi terhadap pimpinan KPK.

Tapi apakah langkah ini bisa dibenarkan? Sejarah mencatat negara ini punya trauma panjang terhadap perlakuan tentara. Di masa Orde Baru, kekuatan tentara dipakai untuk mempertahankan kekuasaan.  Tentara menekan suara yang berbeda, membungkam mereka yang melawan. Frase “Dwifungsi ABRI” jadi sesuatu yang menggelisahkan – karena seperti membuka pintu pada kekerasan di ranah sipil. Dicabutnya dwifungsi ABRI menjadi salah satu agenda Reformasi paling penting yang akhirnya terwujud.

Jika pintu untuk TNI kembali dibuka, sudikah kita kehilangan kebebasan sipil yang sudah kita peroleh ini? Pak Jokowi, tolong jangan hancurkan perjuangan 17 tahun lalu itu. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!