Mucikari berinisial RA ditangkap

Polres Metro Jakarta Selatan membawa tersangka yang diduga mucikari berinisial RA ketika rilis praktek prostitusi privat atau kelas atas di Polres Jakarta Selatan, Jakarta, Sabtu (9/5).(Antara)

Hari-hari belakangan media sibuk memberitakan prostitusi online yang diduga melibatkan artis bertarif selangit. Pasca penangkapan artis berinisial AA dan mucikarinya Sabtu lalu, kita lantas disuguhi beragam berita soal prostitusi. Berhari-hari. Dari berbagai sudut. Selalu ada yang punya dan ingin berkomentar, termasuk pejabat Negara.

Menteri Sosial berkeinginan mengikuti jejak Swedia memberantas praktik prostitusi, Menkominfo muncul dengan ide menambah pasal yang bisa menjerat para pelaku prostitusi. Kepolisian tak ketinggalan -mengumbar pernyataan soal adanya pelanggan prostitusi yang berasal dari kalangan para pejabat Negara.

Tunggu, tunggu. Apakah percakapan ini betul-betul penting? Jika diskusi soal ini mengarah pada upaya membongkar kemungkinan praktik gratifikasi yang melibatkan pejabat Negara, boleh lah. Tapi yang terjadi sekarang sepertinya tak produktif dan tak bergulir ke mana-mana.

Bergunjing memang asik. Apalagi kalau materinya soal seks - tema yang tak pernah lekang oleh waktu. Tapi jangan lupakan juga kewajiban kita untuk mengawal kerja pemerintah, memastikan nasib tapol Papua pasca bebas, nasib perpanjangan moratorium hutan dan banyak lagi. Jangan cuma berhenti di mencari tahu siapa AA. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!