Ceroboh dan Merusak Lingkungan

Yang bikin jengkel, sang pelaku baru angkat suara ketika pencemaran meluas. Setelah beberapa kali membantah, akhirnya PT Pertamina mengakui minyak tersebut miliknya.

Kamis, 05 Apr 2018 05:37 WIB

Masyarakat bersama aparat membersihkan pesisir Pantai Teluk Balikpapan.

Masyarakat bersama instansi pemerintah dan aparat setempat membersihkan pantai wisata guna memulihkan kondisi pesisir Balikpapan yang tercemar tumpahan minyak Kilang Mandiri. (Foto: Antara/Sheravim).

Empat hari sudah, sebaran gumpalan minyak hitam pekat terus meluas di perairan Teluk Balikpapan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Timur memperkirakan pencemaran minyak sudah sepanjang 80 kilometer garis pantai Balikpapan. Pemerintah lokal menetapkan status darurat Senin lalu dan segera bersih-bersih pantai. Toh belum mampu mengatasi sebaran pencemaran.

Yang bikin jengkel, sang pelaku baru angkat suara ketika pencemaran meluas. Setelah beberapa kali membantah, akhirnya PT Pertamina mengakui minyak tersebut miliknya. Pertamina mengaku saat pencemaran terjadi, mereka hanya mengambil sampel di perairan, bukan di suplai bawah laut, tempat minyak mentah mengalir.

Belakangan tumpahan minyak diketahui berasal dari pipa pengiriman bawah laut yang putus. Pipa di kedalaman 20 hingga 25 meter itu menggelontorkan minyak dari arah kabupaten Penajam Paser Utara ke Balikpapan. Polisi tengah menyelidiki penyebab putusnya pipa, yang bikin suasana di Teluk Balikpapan jadi mirip pompa bensin. Tumpahan minyak ini sebelumnya jadi bahan bakar yang nyaris menghabisi badan kapal kargo MV Ever Judger Panama berbendera Tiongkok, Sabtu lalu. Api juga menyebabkan 5 nyawa melayang. Pencemaran membunuh seekor pesut, satwa langka di kawasan itu. Bukan cuma itu ratusan warga di pesisir laut menderita sesak nafas, mata pencaharian terganggu.

Kita berharap situasi ini tak berlangsung lebih lama lagi. Tumpahan minyak di laut terus bergerak, kecepatan penanganan tentu sangat penting untuk meminimalkan dampak pencemaran terhadap lingkungan. Nantinya upaya preventif mesti lebih ketat dilakukan agar peristiwa serupa tak kembali terulang. Ini penting, sebab dari sepanjang 14 ribu kilometer total pipa migas, lebih setengahnya berada di bawah laut. Risiko tumpahan minyak yang berasal dari kecelakaan kapal atau pipa pecah akan selalu ada di masa mendatang.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Sumur Minyak Tradisional di Aceh Timur Akan Ditutup

  • Ajuran Tarif Tak Dipenuhi, Menhub Kembali Akan Panggil Aplikator Ojek Online
  • Situs Uji Coba Nuklir Korut Dilaporkan Hancur
  • Madrid Pecahkan Rekor dengan 150 Kemenangan di Liga Champions

Anda berencana ke luar negeri? Ingin beli oleh-oleh, tapi takut kena pajak? Pada 1 Januari 2018, pemerintah menerbitkan regulasi baru untuk impor barang bawaan penumpang dan awak sarana pengangkut.