Deklarasi Pilkada Damai.

Deklarasi pilkada damai bertekad bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan selama Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. (Foto: Antara)

Tiga hari masa tenang jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jakarta putaran kedua, rasanya tak berjalan dengan mulus. Alih-alih memberi kesempatan warga Ibu Kota memantapkan pilihannya, media sosial ingar dengan beragam saling tuding antarpendukung. Dari mulai saling tuding bagi-bagi sembako, sampai aneka spanduk kampanye hitam.

Kata Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta, kedua jenis pelanggaran itu paling banyak terjadi selama putaran dua pilkada. Pelakunya ya pendukung kedua pasangan yang tengah berebut kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Bawaslu mengancam akan menindaklanjuti ke muka hukum segala kegiatan yang berbau kampanye itu.

Di sisi lain kepolisian mengeluarkan maklumat larangan pengerahan massa saat pemungutan suara pada Rabu besok. Polisi mengancam menjatuhkan sanksi bagi warga luar Jakarta yang nekat hadir di tempat pemungutan suara (TPS).  Maklumat itu  itu dikeluarkan menanggapi rencana Tamasya Al Maidah yang  ditargetkan akan menggerakkan 1,3 juta orang dari luar Jakarta untuk menjaga  TPS . Panitia berdalih TPS perlu diawasi untuk memastikan Pilkada berjalan adil, jujur, dan demokratis.

Tapi sepertinya ancaman Bawaslu dan  polisi itu tak mempan, terutama di dunia maya. Dari Twitter misalnya, hingga kemarin nama peserta Pilkada ada yang bertengger di daftar paling diperbincangkan. Bila kita klik daftar itu, maka akan muncul ajakan untuk memilih si calon. Pun dengan tamasya politis itu. Ajakan dan dukungan terus disuarakan.

Aparat perlu menunjukkan dan membuktikan sikap tegasnya. Menangkap otak di balik aksi-aksi itu dan menjebloskannya ke penjara. Dari situ kita bisa berharap ada efek jera bagi siapa saja  yang tak senang melihat negeri ini tenang.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!