Ajaran Radikal di Sekolah

Bahkan ada guru yang mengharamkan upacara bendera, penghormatan bendera hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Selasa, 04 Apr 2017 23:24 WIB

ilustrasi: radikalisme mengancam Indonesia

ilustrasi: radikalisme mengancam Indonesia

Belasan sekolah di Cilacap Jawa Tengah diindikasikan sudah kemasukan paham keagamaan radikal. Berdasarkan catatan Forum Kerukunan Umat Beragama FKUB Cilacap, paham radikal ini tersebar di 16 sekolah dengan berbagai modus. Para guru di sekolah itu disebut menyebarkan paham radikal di sela-sela pengajaran. Misalnya mengutip ayat-ayat Alquran Surat Almaidah, yang isinya larangan mematuhi hukum selain hukum Allah. Bahkan ada guru yang mengharamkan upacara bendera, penghormatan bendera hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Ini bukan kasus pertama dan satu-satunya. Banyak kasus serupa terjadi dengan berbagai bentuk dan tingkatan. Walaupun tidak ada materi buku pelajaran yang berisi paham-paham radikal itu, namun guru tetap leluasa menyampaikan pemikiran-pemikiran keliru itu kepada siswa. Kita juga pernah membaca temuan dari lembaga-lembaga penelitian yang mengindikasikan paham radikal sudah masuk ke perguruan-perguruan tinggi, melalui gerakan-gerakan mahasiswa atau pengajian-pengajian. Sayangnya, hingga kini kita tidak mendengar langkah konkret dari pemerintah maupun otoritas pendidikan setempat dalam menghadang penyebaran paham radikal itu.

Diakui atau tidak, pemahaman keagamaan secara ekstrem saat ini sudah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari perguruan tinggi, sekolah-sekolah, masjid-masjid, hingga ke institusi-institusi pemerintahan.Organisasi Nahdlatul Ulama menyebut pemahaman ekstrem itu merupakan ciri dari kelompok yang disebut berpaham Wahabi. Dalam tingkat ekstrem, kelompok ini berbentuk organisasi Hizbut Tahrir Indonesia HTI yang mengkampanyekan perubahan negara menjadi khilafah Islamiyah. Itulah yang terlihat ketika kita melihat berkibarnya bendera Hizbut Tahrir Indonesia di sekolah-sekolah dasar, bahkan di Jakarta.

Kita mendesak pemerintah untuk bertindak cepat menyikapi penyebaran paham-paham radikalisme ke anak-anak sekolah. Karena, pemahaman radikalisme bisa memicu tindakan pemaksaan kehendak dan kekerasan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Polisi Segera Limpahkan Berkas Aktivis AntiSemen Joko Prianto

  • Tahun Depan, Solo Terapkan Kurikulum 2013
  • Seorang Ulama Dituding Terlibat Serangan di Barcelona
  • Kapten Vietnam: Melawan Indonesia Jadi Laga Kunci

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR