Simposium Tragedi 1965. (KBR/Nurika)

Simposium Tragedi 1965. (KBR/Nurika)

Tanda-tanda itu sudah terlihat sejak awal dibukanya Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965. Simposium itu tak banyak membuka ruang dialog antara para korban dengan pemerintah. Padahal pemerintah menggelar forum itu untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat itu.

Di pembukaan, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan menyatakan pemerintah tidak akan meminta maaf atas sejarah kelam pada 1965-1966. Luhut juga menolak data-data yang dilansir para sejarawan dan Komnas HAM. Komnas HAM sudah merilis jumlah korban pembantaian massal kala itu -- antara 500 ribu hingga satu juta orang.

Selain mempersoalkan jumlah korban, tidak ada lagi pernyataan resmi dari pemerintah. Simposium pun berjalan tak ubahnya seminar-seminar lain. Para korban kasus 1965 lebih banyak menjadi pendengar terhadap paparan pengamat, sejarawan, dan psikolog. Itu pun beberapa pembicara memanfaatkan forum untuk mempromosikan buku karya mereka.

Pemerintah berharap simposium itu menghasilkan rekomendasi bagi penyelesaian tragedi 1965 yang ditargetkan bisa tuntas pada awal Mei mendatang. Sedari awal, pemerintah menegaskan akan memilih pendekatan non yudisial untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat tragedi 1965.

Karena itu, sepanjang simposium kemarin, sama sekali tidak terdengar suara-suara muncul mengenai proses penyelesaian tragedi 1965 melalui jalur hukum. Kita juga mendengar, dari 200-an peserta, hanya sekitar 15 orang berasal dari perwakilan para korban 1965. Sementara para pembicara masih kurang mewakili jeritan para korban, yang bahkan untuk berkumpul pun diusir sana-sini.

Jadi, apa yang bisa diharapkan dari simposium seperti itu, ketika pemerintah sudah punya pilihan? Rekomendasi seperti apa yang akan diserahkan kepada pemerintah? Apakah rekomendasi bakal didengarkan dan dilaksanakan pemerintah?

Hari ini Simposium akan memasuki hari kedua. Kita berharap acara ini tidak sia-sia dan memberi harapan semu pada para korban dan keluarga korban tragedi 1965. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!