Makam Siyono. (Antara)

Makam Siyono. (Antara)

Kepolisian masih mengingkari penyebab kematian Siyono, pria asal Klaten, Jawa Tengah, yang dituding pimpinan neo Jamaah Islamiyah (JI). Kapolri Badrodin Haiti menyebut, ada dua pelanggaran yang dilakukan dua anggota Densus 88; pertama pengawalan yang hanya satu orang dan terduga Siyono tak diborgol. Kata Badrodin, hal itu melanggar Perkap. Dan, kini kedua anggota Densus 88 itu masih menjalani sidang etik oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polri.

Kematian Siyono, sebetulnya sudah diungkap Tim Dokter Forensik Muhammadiyah pada pertengahan April lalu yang menunjukkan beberapa luka akibat benda tumpul saat dia masih hidup.

Selain di kepala, luka juga tampak pada rongga dada dimana 1 rusuk kanan dan 5 rusuk kiri patah. Patahan inilah yang teridentifikasi menusuk bagian vital; jantung! Berbagai luka tersebut menunjukkan kalau Siyono tidak melakukan perlawanan. Selain itu, hasil autopsi pun menunjukkan memar pada bagian belakang tubuh dan ini memunculkan dugaan, Siyono bersandar saat dipukul.

Jika melihat luka-luka itu, klaim Polri sebelumnya yang menyebut Siyono melawan sehingga terjadi perkelahian, telah terpatahkan. Tapi rupanya, Polri tak mau begitu saja mengakui kesalahannya. Belakangan Polri malah mengumbar opini dengan menyebut Siyono petinggi JI. Opini ini jelas ingin membentuk pikiran di masyarakat bahwa seorang teroris layak dihabisi. Padahal terbukti atau tidaknya Siyono benar-benar teroris ada di Pengadilan.

Indonesia sudah meratifikasi konvensi tentang anti penyiksaan, tapi sialnya belum juga diadopsi dalam perundang-undangan. Hal ini menurut Kontras, menyebabkan kasus penyiksaan tetap tinggi di Indonesia. Sepanjang Juli 2014 hingga Mei 2015 saja, terjadi 84 kasus. Kasus-kasus penyiksaan pada tahun-tahun sebelumnya lebih tinggi lagi dan proses hukumnya mandek.

Siyono, tak sepatutnya disiksa hingga nyawanya melayang. Karena siapa pun, termasuk Anda, bisa saja bernasib sama hanya karena dituduh teroris. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!