Petugas kebakaran memadamkan api yang membakar bangunan Lapas Klas II A Banceuy Bandung, Jawa Barat,

Petugas kebakaran memadamkan api yang membakar bangunan Lapas Klas II A Banceuy Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/4).(Antara)

Sabtu akhir pekan lalu sejumlah narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy, Bandung, Jawa Barat, mengamuk dan membakar bangunan lapas. Kemarahan para napi ini lantaran kematian Undang Kosim. Dia tewas diduga akibat dianiaya petugas karena menyelundupkan narkoba.

Kerusuhan Lapas Banceuy menjadi kerusuhan keempat dalam satu bulan terakhir di penjara. Tiga kerusuhan lainnya terjadi di Lapas Kerobokan, Bali, Rumah Tahanan Malabero, Bengkulu dan Lapas Kuala Simpang, Aceh. Tak hanya menghanguskan bangunan rutan, kerusuhan di Rutan Malabero bahkan membuat lima tahanan tewas.

Kerusuhan beruntun di penjara mengisyaratkan pembenahan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan tak berjalan baik. Padahal masalah utama yang menjadi penyebab munculnya sejumlah persoalan di rutan dan lapas sudah diketahui sejak puluhan tahun silam, yakni overkapasitas.  Sialnya, problem itu tak kunjung diselesaikan. 

Hingga akhir maret lalu Sistem Database Pemasyarakatan menyebut ada sebanyak hampir 176 ribu napi dan tahanan dengan kapasitas tersedia hanya bagi 115 ribu napi. KemenkumHAM bukan tak tahu soal ini.  Overkapasitas terjadi di banyak lapas lainnnya di Indonesia. Misalnya Lapas Salemba Jakarta dan Lapas Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara yang masing-masing sudah mencapai 3.500 orang napi.

Ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu siap meledak, tanpa upaya dan terobosan radikal untuk membenahi lapas, bukan tidak mungkin kerusuhan kembali terjadi di lapas lain.

Menyelesaikan problem overkapasitas ini menjadi penting agar lapas bisa berfungsi dan kembali pada tujuan semula yakni menjadi tempat untuk melakukan pembinaan terhadap nara pidana sehingga mereka dapat diterima kembali oleh masyarakat.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!