Istri pegiat HAM almarhum Munir, Suciwati berpose usai memberikan keterangan pers terkait nama jalan Munirpad di Kantor KontraS, Jakarta, Sabtu (11/4). Pemerintah Belanda melalui Wali Kota Den Haag akan meresmikan Munirpad sebuah nama jalan sepeda di kota

Di papan biru seukuran plang jalan itu ada tulisan “Munirpad”, dengan huruf besar dan tebal. Di bawahnya ada sederet tulisan: Aktivis perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

Papan itu mulai besok akan terpasang di sebuah jalan sepeda di Den Haag, Belanda, tepat 11 tahun setelah Munir tewas diracun arsenik dalam perjalanan menuju Belanda. Papan nama jalan Munir ini terletak di wilayah di mana nama-nama jalannya dipenuhi dengan aktivis HAM kelas dunia seperti Martin Luther King, Nelson Mandela serta Ibu Teresa.

Sabtu lalu, di kantor Kontras, Suciwati, istri mendiang Munir, berbagi kabar soal ini. Rencana membuat jalan Munir ini sudah mencuat sejak 2011 ketika Suciwati hadir ke Belanda untuk sebuah pemutaran film. Besok, Suciwati juga akan hadir langsung bersama Walikota Den Haag di upacara peresmian Munirpada ini.

Kata Suciwati, ini adalah ironi – ketika Pemerintah Belanda menghargai jasa Munir di bidang hak asasi manusia, sementara di negeri sendiri, Pemerintahnya justru gagal mengungkap siapa pembunuh Munir. Ini pun bukan penghargaan kelas dunia pertama yang diperoleh Munir. Tahun 2000, Munir beroleh Right Livelihood Award yang kerap disebut sebagai Nobel alternatif. Penghargaan serupa diberikan tahun lalu kepada Edward Snowden, buronan pembocor dokumen intelijen Amerika.

Ini bukan hanya ironi yang dirasakan Suciwati, tapi juga oleh kita semua. Papan biru itu akan jadi seperti hantu bagi Pemerintah Indonesia - bahwa kasus pembunuhan aktivis HAM adalah catatan buruk perjalanan negeri ini. Kita tidak akan pernah bisa memandang papan biru Munirpad itu dengan hati tenang sampai siapa pembunuh Munir terungkap. Bukan cuma kroco-nya, tapi otak di belakang pembunuhan Munir.

Dalam peringatan 10 tahun kasus Munir, Suciwati mengatakan kalau ia siap berjuang sampai kapan pun sampai kasus pembunuhan suaminya tuntas. Tapi ia buru-buru menambahkan, kalau ia tentu saja berharap kasus ini segera selesai. Pemerintahan Joko Widodo sejauh ini memang belum terdengar lantang bicara soal hak asasi manusia, tapi alarm sudah berbunyi dua kali. Ketika Pollycarpus bebas Desember lalu dan saat plang jalan Munirpad dipasang besok.

Dan kita tidak ingin menunggu sampai alarm berikutnya berbunyi.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!