Warga di Museum KAA

Warga mengunjungi kawasan tempat pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di depan Museum KAA, Bandung, Jabar, Minggu (19/4). Jelang pelaksanaan KAA ke-60, pengunjung dari dalam maupun luar kota Bandung mengalami peningkatan dikarenakan antusiasnya

60 tahun lalu, Indonesia adalah penggerak dunia. Indonesia membawa negara-negara Asia dan Afrika yang baru memperoleh kemerdekaan untuk berkumpul bersama di Bandung dalam sebuah perhelatan bernama Konferensi Asia Afrika.

Tahun 1955 lalu, pertemuan digelar dengan agenda utama mendorong kerjasama ekoomi dan kebudayaan, sekaligus melawan kolonialisme. Masa Perang Dingin, ketegangan Cina dan Amerika Serikat mendorong negara-negara ini untuk bersepakat dalam Dasasila Bandung. Gong-nya adalah pada terbentuknya Gerakan Non Blok tahun 1961.

Pekan ini, negara-negara itu kembali berkumpul. Dari Jakarta, menuju Bandung, ke tempat para pejabat penting dunia Asia dan Afrika merefleksikan lagi makna Konferensi Asia Afrika puluhan tahun silam  - ketika Indonesia, dan negara-negara kawasan ini, ikut menentukan arah dunia.

Presiden Joko Widodo mengatakan, ini adalah momen sempurna untuk mengingatkan dunia akan peran penting yang sudah dimainkan Indonesia. Tidak saja untuk negara-negara kawasan, tapi juga untuk dunia. Jokowi bahkan mengatakan ingin menyerukan tatanan baru di kancah global, mengingat ada banyak persoalan di kawasan Asia Afrika yang memerlukan perhatian dunia. Kerjasama Selatan-Selatan atau antar negara berkembang juga bakal terus didorong.

Ada banyak momen yang juga terkait dengan KAA. Akhir tahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN akan diberlakukan di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tahun ini juga, Tujuan Pembangunan Milenium alias MDGs akan dilanjutkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan alias SDGs. Keduanya dipastikan bakal mendorong banyak perubahan dan pembangunan, yang diniatkan untuk membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Karena itulah, tahun ini jadi penting untuk seluruh dunia. Dunia mesti paham kalau Asia, juga Afrika, akan makin memegang peran penting di berbagai aspek pembangunan. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 75 persen penduduk dunia, dan tingkat Pertumbuhan Domestik Bruto mencapai 30 persen dari PDB dunia, maka perubahan mestilah dimotori oleh negara-negara Asia dan Afrika – kalau tak mau sekadar jadi penonton atau bahkan korban. Momen Konferensi Asia Afrika tak sekadar ingin bernostalgia, tapi sekaligus mengukuhkan kerjasama untuk maju.

Tantangan sekarang dibandingkan 60 tahun silam tentu berbeda. Tapi kerjasama antara negara-negara Asia Afrika, kerjasama Selatan-Selatan, masih sangat relevan dilanjutkan – bahkan diperkuat.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!