DPR

DPR. (Foto: Antara)

Hobi bolos rapat para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) rupanya belum hilang. Sidang paripurna DPR kemarin dihadiri hanya lebih setengah anggota. Dari 555 anggota, hanya lebih 280 yang hadir mengikuti pengambilan keputusan pengesahan Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Ini tak ubahnya kebiasaan lama yang sulit hilang. Padahal yang perlu mereka lakukan sederhana saja: mengingat lagi sumpah saat dilantik sebagai anggota DPR. Salah satunya, memenuhi kewajiban sebagai anggota dengan sebaik-baiknya dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Kalau hadir dalam rapat saja mereka enggan, bagaimana mereka akan menjalankan isi sumpah lainnya seperti memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya?

Dalam Undang-Undang, ketidakhadiran dalam rapat adalah jenis pelanggaran yang tak butuh pengaduan. Mahkamah Kehormatan DPR mesti mengambil inisiatif untuk menangani pelanggaran ini. Ibarat penyakit, membolos seperti kuman yang bisa menularkan sakit pada yang lainnya. Anggota yang rajin mengikuti rapat, bisa jadi akan ikut gemar membolos manakala tak ada sanksi tegas bagi para pelakunya.

Mahkamah Kehormatan tak boleh berdiam diri. Dari daftar hadir bisa dilacak siapa saja anggota DPR yang paling gemar membolos. Dari situ bisa diusut apakah ketidakhadiran dengan alasan yang kuat seperti sakit. Bila terbukti membolos tanpa alasan kuat, tak perlu ragu memberikan hukuman. Kalau untuk kewajiban yang sederhana seperti mengisi absensi dan hadir sidang saja mereka enggan, jangan harap kewajiban besar lainnya akan mereka lakukan.

Kepada para pemilih  ada baiknya mengingat nama-nama anggota yang gemar membolos itu. Agar kala pemilu tiba, tak memilih lagi mereka sebagai wakil rakyat. Karena terbukti tak amanah pada kepercayaan rakyat yang memilihnya. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!