Penyakit Lama DPR

Kepada para pemilih ada baiknya mengingat nama-nama anggota yang gemar membolos itu. Agar kala pemilu tiba, tak memilih lagi mereka sebagai wakil rakyat.

Rabu, 22 Apr 2015 08:59 WIB

DPR

DPR. (Foto: Antara)

Hobi bolos rapat para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) rupanya belum hilang. Sidang paripurna DPR kemarin dihadiri hanya lebih setengah anggota. Dari 555 anggota, hanya lebih 280 yang hadir mengikuti pengambilan keputusan pengesahan Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Ini tak ubahnya kebiasaan lama yang sulit hilang. Padahal yang perlu mereka lakukan sederhana saja: mengingat lagi sumpah saat dilantik sebagai anggota DPR. Salah satunya, memenuhi kewajiban sebagai anggota dengan sebaik-baiknya dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Kalau hadir dalam rapat saja mereka enggan, bagaimana mereka akan menjalankan isi sumpah lainnya seperti memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya?

Dalam Undang-Undang, ketidakhadiran dalam rapat adalah jenis pelanggaran yang tak butuh pengaduan. Mahkamah Kehormatan DPR mesti mengambil inisiatif untuk menangani pelanggaran ini. Ibarat penyakit, membolos seperti kuman yang bisa menularkan sakit pada yang lainnya. Anggota yang rajin mengikuti rapat, bisa jadi akan ikut gemar membolos manakala tak ada sanksi tegas bagi para pelakunya.

Mahkamah Kehormatan tak boleh berdiam diri. Dari daftar hadir bisa dilacak siapa saja anggota DPR yang paling gemar membolos. Dari situ bisa diusut apakah ketidakhadiran dengan alasan yang kuat seperti sakit. Bila terbukti membolos tanpa alasan kuat, tak perlu ragu memberikan hukuman. Kalau untuk kewajiban yang sederhana seperti mengisi absensi dan hadir sidang saja mereka enggan, jangan harap kewajiban besar lainnya akan mereka lakukan.

Kepada para pemilih  ada baiknya mengingat nama-nama anggota yang gemar membolos itu. Agar kala pemilu tiba, tak memilih lagi mereka sebagai wakil rakyat. Karena terbukti tak amanah pada kepercayaan rakyat yang memilihnya. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

RKUHP, Koalisi Kebebasan Pers Sangsi Audiensi dengan DPR Bawa Perubahan

  • BMKG : Kemarau di Aceh Berlanjut Hingga Maret
  • Israel Beli Minyak Ke ISIS
  • TC Tahap Dua TImnas, Milla Tak Panggil Evan Dan Ilham

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta rakyat yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang jatuh pada tahun 2019.