Gedung DPR

Gedung DPR. (Antara)

DPR kembali membuat geger publik. Ini terkait dengan rencana pengadaan barang dan jasa yang dilakukan Sekretariat Jenderal DPR. Dalam daftar rencana belanja 2015 yang dipublikasikan di situs DPR, lembaga negara ini berencana menghabiskan anggaran hampir Rp 1 triliun.

Banyak yang menimbulkan pertanyaan. Misalnya pengadaan komputer lengkap untuk 560 anggota DPR yang memakan biaya Rp 12 miliar rupiah, atau rata-rata Rp 22 juta rupiah. Juga ada pengadaan komputer untuk Sekretariat Jenderal yang menghabiskan Rp 5 miliar. Ini artinya, kalau dibelikan komputer yang harganya sama dengan komputer anggota DPR, total jendral ada 200 komputer.

Untuk apa komputer semahal itu? Dan untuk apa komputer sebanyak itu di Sekretariat Jenderal DPR? Lalu kemana komputer lama yang kabarnya dulu kualitas supercanggih?

Belum lagi jasa internet yang memakan biaya hampir Rp 3 miliar per tahun. Di Jakarta saja, jasa internet kecepatan super hanya sekitar Rp 100 juta per bulan atau Rp1,2 miliar per tahun. Dua tahun lalu PT Telkom yang memenangkan tender pengadaan internet di DPR hanya butuh Rp700-an juta. Apa iya kinerja anggota DPR sangat membutuhkan dan mengandalkan internet super mahal seperti itu?

Banyak item-item rencana belanja lain yang menimbulkan tanda tanya, karena mengada-ada, aneh dan tidak wajar. Ada biaya perawatan rumah dinas anggota DPR sebesar Rp 32 miliar per tahun. Ada juga belanja pengharum ruangan DPR yang menghabiskan lebih Rp 2 miliar rupiah. Ini potensial untuk digelembungkan. Apa semahal itu biaya mengharumkan ruangan DPR?

Ada juga biaya pakan dan perawatan rusa di kebun binatang mini di kompleks DPR mencapai Rp650 juta rupiah pertahun. Lha, apa iya DPR perlu memelihara rusa? Akhir tahun lalu saja, DPR memelihara 70 ekor rusa, namun banyak yang mati karena stres.

Selama bertahun-tahun, rencana belanja DPR kerap menimbulkan tanda tanya dan kehebohan publik. Alhasil banyak proyek tender yang kemudian dibatalkan karena protes dari publik.

Kita mendesak Sekretariat Jenderal DPR meninjau kembali dan merevisi rencana belanja tahun ini. Bila perlu mencoret yang tidak penting. Negara sedang butuh banyak penghematan anggaran. Apa yang perlu dihemat, hematlah. Dan DPR harus ikut memberi contoh menggunakan anggaran yang tepat dan efisien. Tidak sekadar memboroskan uang negara.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!