Mary Jane. (Antara)

Ini jam-jam yang sangat berharga bagi Mary Jane Veloso. Selasa besok, nyawanya akan melayang di hadapan tim eksekusi. Di jam-jam terakhir ini, Mary Jane diperbolehkan bertemu dengan keluarga seharian, termasuk kedua anaknya, Daniel dan Mark Darren. Di hari Selasa, hari eksekusi, cukup sampai jam 2 siang.

“Mungkin ini kehendak Tuhan,” kata Mary Jane seperti ditirukan ibunya, Celia Veloso. Meski segera kehilangan nyawa, Mary Jane meminta kedua anaknya tetap bangga kepada dirinya karena menanggung dosa orang lain.

Orang lain yang dimaksud Mary Jane adalah pengedar narkoba yang sebetulnya. Komnas Perempuan menyodorkan fakta-fakta pendukung soal ini dalam surat terbukanya kepada Presiden Joko Widodo. Di Filipina, Mary Jane adalah pengumpul dan penjual barang bekas, menikah di usia 16 tahun dan hanya sekolah sampai SMP. Demi menafkahi kedua anaknya, Mary Jane sempat bekerja sebagai buruh migran di Dubai. Mary Jane sampai ke Indonesia karena ditipu oleh orang yang merekrutnya sebagai pekerja rumah tangga. Mary Jane diberikan tas untuk membawa pakaian, di dalamnya dimasukkan heroin 2,6 kilogram.

Profil ini mirip dengan Dwi Wulandari, buruh migran asal Indonesia, yang tertangkap membawa 8 kilogram kokain di Bandara Filipina. Tapi nasib Wulandari tak berakhir di hadapan tim eksekusi karena Filipina sudah menghapus hukuman mati. Wulandari pun tidak serta merta dianggap pengedar tapi sebagai pelaku pelapor. Penelusuran Filipina mendapati kalau Wulandari adalah buruh migran dan jadi korban perdagangan manusia dan sindikat narkoba.

Sekjen PBB Ban Ki Moon meminta Pemerintah memberlakukan moratorium hukuman mati. Surat terbuka terakhir datang dari Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta yang meminta Jokowi memikirkan aspek kemanusiaan terhadap Mary Jane. Tak terhitung dorongan lain dari berbagai negara yang warganya bakal segera mati di Indonesia.

Pak Jokowi, ingatlah kalau putusan mati tidak bisa ditarik. Nyawa yang sudah hilang tidak bisa dihadirkan lagi. Seberapa yakinkah kita bahwa sistem peradilan sudah berjalan dengan jujur dan adil, sehingga yakin betul dengan putusan hukuman mati? Situasi narkoba di Indonesia memang sungguh darurat, tapi kegawatan ini tak bisa dikurangi dengan menghilangkan nyawa orang.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!