jokowi

Presiden Jokowi. (Antara)

Pidato Presiden Jokowi pada pembukaan Konferensi Asia Afrika Rabu lalu banyak mendapat pujian. Dalam pidato itu, Jokowi kembali menggugat kemapanan tata ekonomi dunia yang didominasi negara-negara maju. Dan karena itu, sebagaimana Bung Karno, Jokowi mencoba mengajak para pemimpin negara-negara Asia Afrika untuk bersatu dan bangkit melawan ketidakadilan yang selama ini terjadi.

Kami kutipkan kembali sebagian isi pidato itu:
“Ketika negara-negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia, menghabiskan 70 persen sumber daya bumi maka ketidakadilan menjadi nyata. Ketika ratusan orang di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup super kaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia di sebelah selatan tidak berdaya dan berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka ketidakadilan semakin kasat mata”.

Pada bagian lain, juga menyentak hadirin dengan menyinggung peran lembaga keuangan global. Kami kutipkan lagi:

“Ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok dunia enggan mengakui realita dunia yang telah berubah. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF dan ADB adalah pandangan yang usang yang perlu dibuang.”

Sesungguhnya tak ada yang baru dalam pidato Presiden Jokowi. Sudah terlampau banyak kritik terhadap peran lembaga-lembaga keuangan global yang pada awalnya dianggap sebagai resep mujarab pembangunan tapi kemudian terbukti justru memurukkan banyak negara dalam jerat utang.

Yang membuat pidato Presiden Jokowi tampak beda adalah keberaniannya. Sebagai seorang kepala negara, Jokowi dinilai berani bersuara keras terhadap apa yang selama ini dianggap sudah mapan.

Tapi apa cukup dengan bersuara keras saja?

Satu contoh saja. Berapa banyak utang luar negeri kita sekarang? Data Bank Indonesia menyebut, sampai akhir Februari 2015 utang luar negeri kita sudah mencapai USD 298,9 miliar atau sekitar Rp 3,832 triliun. Utang ini terdiri dari utang sektor publik sebesar USD 134,8 miliar dan sektor swasta sebesar USD 164,1 miliar.

Bagaimana kita membayar seluruh utang-utang itu? Kerjasama antarnegara Asia Afrika memang penting. Tapi jangan lupa, ekonomi global yang kapitalistik sudah mencengkeram terlampau dalam. Tak mudah keluar dari jerat utang yang ditimbun selama puluhan tahun.

Ekonomi dunia sekarang juga mulai bergeser ke Cina. Negara ini bahkan sudah membentuk saingan Bank Dunia, IMF, dan ADB, melalui AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank). Masalahnya, kalau hanya ingin menggeser peran Bank Dunia, IMF, ADB, dengan AIIB atau lembaga keuangan global lainnya, yang notabene memiliki perhitungan untung rugi yang sama, lantas apa bedanya?

Di sinilah Konferensi Asia Afrika akan diuji. Akankah ia berhasil merumuskan gerakan baru yang konkret demi mengubah tata ekonomi dunia yang baru atau cuma berhenti pada retorika demi mendapat pujian semata? Kita akan melihatnya bersama.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!