Budi Gunawan

Budi Gunawan. (Antara)

Polri seolah menguji nyali dengan masyarakat dengan menetapkan Budi Gunawan sebagai Wakil Kepala Kepolisian mendampingi Badrodin Haiti.

Tiga bulan lalu, polemik soal Budi Gunawan mulai merebak sampai terjadi apa yang disebut 'cicak versus buaya jilid ketiga'. KPK mengaku punya cukup bukti kalau Budi terlibat kasus dugaan korupsi selama menjabat Kepala Biro Pembinaan Karier Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan lainnya. Tapi Hakim Sarpin telah memutuskan kalau BG tak bisa dijadikan tersangka. Meski begitu, jangan lupa juga kalau Polri yang kini menangani kasus BG belum juga melakukan gelar perkara.

Kini BG sudah dilantik, secara tertutup, di tengah keriuhan Konferensi Asia Afrika. Mabes Polri seperti tengah bermain-main dengan masyarakat lewat keputusan ini. Polri seperti tengah menyepelekan kepekaan masyarakat terhadap ketidakadilan.

Banyak yang khawatir  Budi Gunawan akan lebih berkuasa dibanding Badrodin Haiti. Naiknya BG sebagai Wakapolri terlihat sebagai kompensasi atas dia yang tidak terpilih jadi Kapolri. Bukan tak mungkin, BG bakal ‘balas dendam’ pada pihak-pihak yang pernah menjegal langkahnya menjadi Kapolri. Apalagi, Budi bakal punya kuasa untuk memerintahkan kelanjutan kriminalisasi terhadap orang-orang atau lembaga yang bersuara keras kepada Polri.

Majunya BG mendapat dukungan dari Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) Polri. Tapi suara publik tak bisa diabaikan.

BG sebaiknya menunggu kasusnya tuntas. Yang dipertaruhkan saat ini terlalu besar: kepercayaan publik. Jika ini dinodai, sudah pasti bakal timbul gejolak.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!