Peduli Sampah

World Economic Forum sudah mewanti; tahun 2050 nanti jumlah plastik di lautan akan lebih banyak dibandingkan ikan.

Senin, 19 Mar 2018 05:51 WIB

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memperingati Hari Peduli Sampah Nasional

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memperingati Hari Peduli Sampah Nasional di Anjungan Pantai Losari Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: Antara/Abriawan Abhe).

Dari Makassar, Sulawesi Selatan, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya menyuarakan pesan penting dari Hari Peduli Sampah Nasional: sayangi bumi, bersihkan dari sampah. Sampah yang diproduksi Indonesia memang luar biasa; 66,5 juta ton. Di Jakarta saja, ada 7 ribuan ton sampah yang diproduksi setiap hari. Indonesia juga jadi negara ke-4 pengguna botol plastik terbanyak di dunia. 

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia jelas punya kontribusi yang besar juga soal sampah. Pantauan NASA menunjukkan sampah yang berakhir di lautan kebanyakan berasal dari negara-negara Asia - termasuk Indonesia. World Economic Forum sudah mewanti; tahun 2050 nanti jumlah plastik di lautan akan lebih banyak dibandingkan ikan. 

Mengurus sampah bukan soal mudah. Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan mengatakan, pengelolaan limbah padat butuh dana dan komitmen politik. Di Indonesia, dana pengelolaan limbah padat sebesar 5 dollar per orang, padahal standar dunia sudah tiga kali lipatnya. Otonomi daerah juga membuat urusan sampah jadi wilayah kerja pemda, di kota atau kabupaten. Tapi urusan sampah harus diperlakukan sebagai isu lintas sektoral dan lintas daerah. 

Di India, sampah plastik dipakai untuk bahan aspal. Uganda membuat taman hiburan dari sampah sebagai sarana berkampanye. Di Swedia, sampah jadi sumber energi. Soal inovasi, sebetulnya kita cukup menengok ke Malang. Di sana ada Gamal Albinsaid yang memakai sampah sebagai ‘mata uang’ untuk asuransi kesehatan. Di tingkat pribadi, kita juga perlu terus mencari inovasi untuk mengurangi sampah. Hari ini mungkin bisa berhenti pakai sedotan karena akan menjadi sampah plastik. Besok, bisa beli makan siang dengan tempat makan sendiri. Tidak hanya sampah yang ‘sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit’, tapi juga kebiasaan kita dalam mengurangi sampah. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Sumur Minyak Tradisional di Aceh Timur Akan Ditutup

  • Ajuran Tarif Tak Dipenuhi, Menhub Kembali Akan Panggil Aplikator Ojek Online
  • Situs Uji Coba Nuklir Korut Dilaporkan Hancur
  • Madrid Pecahkan Rekor dengan 150 Kemenangan di Liga Champions

Anda berencana ke luar negeri? Ingin beli oleh-oleh, tapi takut kena pajak? Pada 1 Januari 2018, pemerintah menerbitkan regulasi baru untuk impor barang bawaan penumpang dan awak sarana pengangkut.