Menyelamatkan Generasi Muda

Badan Narkotika Nasional (BNN) mengakui penyelundupan sabu yang digagalkan aparat kurang dari 10% dari yang berhasil masuk.

Kamis, 01 Mar 2018 05:44 WIB

Barang bukti narkoba yang disita dari kapal Cina.

Kepolisian bersama Bea dan Cukai mengamankan barang bukti sabu-sabu seberat 1,6 ton yang dibawa menggunakan kapal penangkap ikan MV Min Lian Yu Yun 61870 dari Pelabuhan Lian Ziang, China. (Foto: Antara/Galih Pradipta)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Indonesia (nyaris) dibanjiri narkoba. Sebanyak hampir 3 ton sabu gagal diselundupkan ke Indonesia. Dini hari, 20 Februari lalu kapal ikan yang membawa 1,6 ton narkotika jenis sabu berhasil ditangkap Tim Gabungan Polri dan Bea Cukai di Kepulauan Riau. Di bulan yang sama, tim kembali menggagalkan 1,8 ton paket sabu di Batam.

Keberhasilan menggagalkan penyelundupan barang terlarang ini patut diapresiasi. Meski begitu, ini tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam menangani permasalahan narkotika di negeri ini.

Faktanya, sejak Presiden Joko Widodo mendeklarasikan Perang terhadap Narkoba pada 2015 lalu, supply dan demand atas barang ini terus meningkat. Indonesia masih jadi surga perdagangan narkoba. Ini bisa dilihat dari maraknya upaya menyelundupkan dan meningkatnya jumlah yang ingin diselundupkan. Dilihat dari barang bukti sitaan, pada 2017 lalu Bea dan Cukai berhasil menggagalkan 2 ton sabu dari ratusan kasus. Tahun ini, nyaris 3 ton hanya dari puluhan kasus.

Fakta lain yang tak kalah penting, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengakui penyelundupan sabu yang digagalkan aparat kurang dari 10% dari yang berhasil masuk. Kapal-kapal pembawa barang haram ini tak kapok. Terus berdatangan.

Saatnya pemerintah tak hanya berfokus pada mencegah masuknya narkoba. Evaluasi komprehensif atas pendekatan perang terhadap narkoba juga perlu dilakukan untuk menjawab banyak pertanyaan. Kenapa narkoba masih terus diselundupkan ke negara ini? Apakah pemenjaraan pengguna mampu menekan permintaan? Apakah 26 ribu lebih pengguna narkotika yang saat ini masih memenuhi Lapas bakal otomatis berhenti menjadi pengguna tanpa rehabilitasi? Pertanyaan-pertanyaan ini mesti dijawab untuk merumuskan strategi jitu menyelamatkan generasi mendatang dari dampak buruk narkotika.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang