Mendata kerusakan karang Raja Ampat akibat kandasnya Kapal MV Caledonian Sky

Tim peneliti mendata kerusakan karang akibat kandasnya Kapal MV Caledonian Sky berbendera Bahama di perairan Raja Ampat (foto: Antara)

Gugusan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat menjadi perhatian dunia. Kawasan karang seluas 13 ribu meter persegi rusak karena ulah manusia. Kapal wisata asing asal Inggris berbendera Bahama menghancurkan kawasan yang dikenal sebagai salah satu gugusan terumbu karang terbaik dunia dan salah satu lokasi tujuan selam tercantik di bumi.

Nahkoda kapal itu memaksa menjalankan kapal sepanjang 90 meter dalam kondisi laut surut hingga terjebak berputar-putar dan merusak terumbu karang. Kapal berpenumpang 100 orang itu harus ditarik dari lokasi menggunakan kapal tunda.

Peristiwa ini menjadi insiden perusakan laut di awal terbesar tahun ini. Juga perusakan terumbu karang pertama di Indonesia oleh kapal pesiar. Kita mendukung rencana pemerintah yang hendak menempuh langkah hukum terhadap tindakan perusakan itu. Meski perusakan tidak disengaja, namun ada unsur kelalaian dan ketidakhati-hatian yang dilanggar - akibatnya keanekaragaman hayati laut Indonesia rusak. 

Pemerintah harus bersikap tegas, menggugat pengelola kapal pesiar tersebut. Pemerintah harus memastikan denda yang dibayarkan pengelola kapal Caledonian Sky itu cukup untuk memulihkan terumbu karang sekaligus kerugian imateriil yang hilang karena proses pemulihan karang, mulai dari terancamnya habitat dan biota laut di sekitarnya akibat rusaknya terumbu karang, hingga potensi turunnya jumlah wisatawan.

Kawasan Raja Ampat dikenal dunia dengan kekayaan dan keindahan biota lautnya. Kawasan ini dikenal sebagai surga tersembunyi di wisata bahari Indonesia timur. Jangan sampai kita biarkan kawasan ini rusak.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!