Jemaat Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD) Mandumpang menggelar ibadah Kamis Putih di tenda. Foto: R

Jemaat Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD) Mandumpang menggelar ibadah Kamis Putih di tenda. Foto: Rio Tuasikal/KBR

Sekitar 100 jemaat dari GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi kemarin merayakan Paskah di depan Istana Negara. Terik matahari menemani ibadah mereka siang itu. Pendeta mengajak para umat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian dan doa. Sebagai acara khas Paskah, maka ada juga pembagian telur Paskah kepada jemaat serta warga yang ada di sekitar Istana. Ibadah berakhir dengan lagu Indonesia Raya.

Ini bukan Paskah pertama jemaat kedua gereja itu di depan Istana. Sudah ada banyak misa mingguan, Paskah serta Natal yang mereka lewatkan di sana. Di bawah tenda. Di depan Istana. Tak putus-putus, Minggu demi Minggu menggelar ibadah di sana. Sejak 2012, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia sudah mengingatkan Pemerintah. Bahwa apa yang mereka alami itu nyata.

Sementara dari Kabupaten Aceh Singkil, kita juga mendengar kabar soal warga Kristen yang tak bisa belajar agama di sana. Warga bercerita, semua murid wajib ikut pelajaran agama Islam. Sebab, tak ada sekolah yang memfasilitasi guru agama Kristen atau Katolik. Alhasil, semua murid Kristen harus belajar agama Islam, demi bisa tetap mendapatkan nilai pelajaran Agama dan lulus. Sejauh ini Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil membantah informasi itu.

Ini memilukan, ketika warga negara harus menuntut haknya untuk beribadah. Sementara negara, yang sudah diingatkan berkali-kali, tak kunjung mendengarkan. Sementara pasal di konstitusi tak pernah berubah: bahwa setiap o rang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Termasuk di situ, memilih pendidikan dan pengajaran.

Yang mereka minta, yang juga kami ingatkan terus: hai negara, pasanglah telinga dan penuhi hak warga negaramu. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!