Spanduk monolog Tan Malaka. (Foto: KBR/Arie.N)

Spanduk monolog Tan Malaka. (Foto: KBR/Arie.N)

Banyak kabar buruk di jelang akhir pekan ini. Dari mulai pelarangan pentas monolog Tan Malaka di Bandung, pelarangan ibadah Jamaah Ahmadiyah di Subang, hingga pelarangan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Kesemua pelarangan itu datang dari orang, kelompok atau lembaga  yang pandir atau dalam istilah kekinian - - "kurang piknik".

Lihat saja alasan kepolisian Jawa Barat tak mengizinkan pementasan Tan Malaka. Kata juru bicaranya, pementasan itu bertentangan dengan Undang-undang tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Polisi mengartikan pasal-pasal dalam Undang-Undang tersebut sesuai selera. "Kalau tidak cocok ya tidak kita berikan izin," begitu kelit Jubir Kepolisian Jawa Barat. Padahal aturan itu justru untuk menghormati dan melindungi hak asasi manusia berdasarkan selera alias kecocokan polisi. Polisi lupa, bahwa melalui keputusan presiden, Tan Malaka diberi gelar pahlawan nasional karena perjuangannya dalam kemerdekaan.

Pun larangan lainnya, muncul dari kepala-kepala  yang pandir. Kepala yang didalamnya berisi kecurigaan dan semangat menindas hak orang lain. Pikiran semacam itu bisa hadir di kepala siapa saja. Orang biasa, aparat sampai pejabat di daerah maupun pusat.

Untungnya kepala-kepala bijak tak kurang banyaknya bertebaran di sekitar kita. Walikota Bandung memberikan jaminan dan meminta aparat keamanan menjaga pertunjukan itu. Penambahan pasukan untuk mengantisipasi kehadiran kelompok intoleran pandir itu. Apa yang dilakukan Kang Emil - begitu Walikota Bandung itu kerap disapa - mestinya menjadi panutan bagi yang lainnya. Tentang bagaimana menghadapi tekanan orang atau kelompok pandir. Menjadi pemimpin yang mengayomi terutama terhadap kelompok minoritas yang rentan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!