Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi

Orang-orang rasis dan pendukung diskriminasi memang tak layak mendapat penghargaan, apalagi Nobel Perdamaian.

Selasa, 29 Mar 2016 10:00 WIB

Aung San Suu Kyi. (Antara)

Aung San Suu Kyi. (Antara)

Beberapa tahun lalu Aung San Suu Kyi menjadi sosok yang begitu dikagumi di berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia. Daw Suu, begitu ia dipanggil, mewakili sosok perempuan pejuang demokrasi dan hak asasi manusia yang tanpa takut dan lelah melawan kediktatoran junta militer Burma atau Myanmar.

Ia meraih Nobel Perdamaian pada 1991. Di Indonesia, perjuangan Daw Aung San Suu Kyi ikut memberi inspirasi perlawanan terhadap kekuasaan Soeharto.

Tetapi kekaguman itu mulai redup, seiring sikap Aung San Suu Kyi yang dianggap menerapkan standar ganda terkait perlindungan terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Aung San Suu Kyi dianggap tidak pernah sekalipun memberikan pernyataan yang melindungi warga muslim Rohingya dari pengusiran pemerintah Myanmar. Padahal etnis Rohingya merupakan warga asli Myanmar yang sudah ada ratusan tahun lalu.

Sikap Aung San Suu Kyi juga mendapat sorotan karena tidak ramah terhadap kelompok lain. Ketika diwawancara Radio BBC Inggris, ia kesal karena presenter yang mewawancarainya beragama Islam. Ia juga menolak mengutuk kampanye anti-Muslim di Myanmar.

Sikap ini memancing lebih dari seratus warga Indonesia menggagas petisi melalui situs petisi global Change.org. Para penggagas petisi yang dimotori aktivis ICW Emerson Yuntho itu menuntut agar Komite Nobel Norwegia mencabut penghargaan Nobel Perdamaian milik Aung San Suu Kyi. Mereka menilai sikap Aung San Suu Kyi merupakan pernyataan rasis dan bentuk diskriminasi terhadap Muslim.

Orang-orang rasis dan pendukung diskriminasi memang tak layak mendapat penghargaan, apalagi Nobel Perdamaian. Karena sikap rasis dan diskriminasi justru memicu pertikaian. Termasuk di negeri ini.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.