Kelompok gerilyawan Abu Sayyaf. (Foto: VOA)

Kelompok gerilyawan Abu Sayyaf. (Foto: VOA)

Kelompok militan Abu Sayyaf membajak dua kapal Indonesia yang membawa tujuh ribu ton batu bara. Satu kapal, Brahma, sudah dilepas. Namun kapal tongkang Anand bermuatan 7 ribu ton batubara beserta 10 Anak Buah Kapal warga Indonesia masih disandera. Kelompok militan meminta tebusan uang 50 juta peso, setara Rp. 14,3 Miliar, kepada pemilik kapal dan perusahaan.  

Peristiwa yang menyedot perhatian publik ini direspon cepat oleh pemerintah. Kementerian Luar Negeri langsung mengadakan kontak dengan pihak Kemenlu Filipina. Begitupun lembaga militer dan pertahanan kedua negara terus melakukan komunikasi intensif. Semua fokus pada upaya penyelamatan nyawa 10 ABK. 

Ini bukan kali pertama nasib nahas menimpa ABK. Dan ini sudah semestinya membuka mata kita soal minimnya jaminan keselamatan kerja bagi ABK.

Kurun 2012-2015 LSM Migrant Care menangani hampir 500 kasus ABK. Jumlah itu meningkat tiap tahun.  Para ABK yang ditemui bekerja di sepanjang perairan laut China, Amerika latin, Afrika dan Rusia. Mereka bukan saja rentan dieksploitasi namun tidak mendapat jaminan keselamatan.

Pangkal soalnya, menurut Migrant Care, Undang-undang tentang penempatan dan perlindungan TKI. Aturan itu tidak mengakomodasi ABK sebagai bagian dari buruh migran yang dilindungi.  Alhasil, ABK berada pada situasi rentan - kondisi kerja yang tidak layak, juta tidak adanya jaminan keselamatan dari ancaman bajak laut atau perompak di wilayah konflik.

Kita mengapresiasi keseriusan pemerintah untuk segera membebaskan ke-10 ABK yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Namun itu saja tentu tidak cukup. Kita mesti bisa memastikan para ABK mendapat jaminan keselamatan kerja seperti juga kelompok pekerja lainnya.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!