Kang Emil mengadakan konferensi pers tentang pengunduran dirinya dari pemilihan gubernur DKI Jakarta

Kang Emil mengadakan konferensi pers tentang pengunduran dirinya dari pemilihan gubernur DKI Jakarta mendatang di Balaikota Bandung, Jawa Barat, Senin (292). (Foto: Antarafoto)

“Indonesia tidak hanya Jakarta. Saya yakin Indonesia bisa maju jika di daerah juga dipimpin orang-orang terpercaya dan progresif secara merata.”

Begitu kata Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, Jawa Barat kemarin. Ia memutuskan tidak ikut maju dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta pada tahun depan. Ini jadi lecutan buat publik, juga bagi partai yang ngebet ingin memboyong Ridwan Kamil ke Jakarta.

Ini penyakit lama partai politik: kaderisasi calon pemimpin. Memang tidak ada aturan yang melarang partai memboyong kepala daerah dari satu daerah untuk maju ke pemilihan di daerah lain untuk level yang lebih tinggi. Terutama jika para calon yang maju dianggap kurang berkualitas. Namun, keinginan partai memboyong figur berkualitas dari daerah satu ke daerah lain bakal menimbulkan banyak masalah. Apalagi kalau mereka yang berkualitas diadu satu sama lain, dengan sistem gugur.

Sekarang Bandung punya Ridwan Kamil, Surabaya punya Tri Rismaharini sementara Jawa Tengah punya Ganjar Pranowo, dan Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta. Bayangkan kalau mereka semua berebut kursi DKI-1. Siapapun yang menang, banyak daerah bakal kehilangan pemimpin berkualitas.

Ini bukan semata soal kutu loncat atau komitmen pada janji lima tahunan. Pemimpin yang baik dan berkualitas harus terus ditumbuhkan sebanyak-banyaknya di republik ini, menyebar di berbagai daerah. Ini juga soal kewajiban dan pekerjaan rumah bagi partai-partai untuk memperbaiki proses kaderisasi calon pemimpin daerah. Bukan mengadu dan menyingkirkan mereka. Karena Indonesia bukan hanya Jakarta.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!