Berkejaran dengan Waktu soal Karhutla

Alarm bahaya bagi warga Riau.

Senin, 14 Mar 2016 10:00 WIB

Asap karhutla di Kotawaringin Kalimantan Tengah. (KBR/Alex)

Asap karhutla di Kotawaringin Kalimantan Tengah. (KBR/Alex)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Kita berkejaran dengan waktu. BMKG mencatat ada 21 titik api yang tersebar di Riau kemarin. Yang paling parah di meranti dan Bengkalis. Angka ini melonjak tajam mengingat sebelumnya ada tempat yang tidak ada titik panasnya.


Persis sepekan lalu, Pemerintah Riau menyatakan status darurat siaga kebakaran hutan dan lahan. Titik api justru terus bermunculan. Di Desa Sungai Gajah, Kecamatan Kubu, Rokan Hilir misalnya, hutan produksi seluas 20 hektar ludes terbakar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengatakan, penanganan karhutla masih bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. BNPB siap mendampingi. Salah satu bentuknya adalah dengan mengirimkan dua helikopter pengebom air ke Riau. Ini memang sesuatu yang diminta Pemda setempat, supaya pemadaman karhutla tepat sasaran.


Rakyat sudah bergerak, menggugat pemerintah pusat dan daerah lewat gugatan warga negara. Gugatan itu didaftarkan Kamis pekan lalu di Pengadilan Negeri Pekanbaru. Sementara Pemerintah pusat, Jumat lalu, masih sebatas menyusun standar pencegahan kebakaran, termasuk konsep peringatan dini. Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, pencegahan kebakaran lebih murah ketimbang pemadaman kebakaran.


Itu betul. Tapi ketika bicara ‘pencegahan lebih baik daripada pengobatan’ ketika titik api di Riau sudah bertambah itu mengherankan. Apalagi bulan Maret-April ini sudah sejak lama diwaspadai bakal rawan karhutla lagi di Riau. Waktu tak bisa diputar balik. Seharusnya pencegahan sudah dibicarakan sejak hujan turun di Riau dan menghilangkan kabut asap yang menyiksa warganya. Kalau sekarang baru bicara pencegahan, maka ini alarm bahaya bagi warga Riau.



Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.